= SELAMAT DATANG DI BLOG ARTIKEL PENDIDIKAN BY JUMIANTO =

-== SELAMAT DATANG DI BLOG ARTIKEL PENDIDIKAN BY JUMIANTO & SEMOGA BERMANFAAT= = -

Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 02 Februari 2011

Laporan Biologi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Pada masa sakarang ini kita ketahui bahwa pencemaran udara dan perusakan lingkungan sangatlah memprihatinkan khususnya bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah rusaknya lingkungan hidup makhluk hidup. Seperti pembelakkan liar dan tingkat kebakaran hutan yang tinggi. Maka dari itu Pohon mempunyai banyak manfaat bagi kehidupan.  Dengan adanya pohon, bumi terhindar dari berbagai bencana.  Misalnya global warming, tanah longsor dan banjir.  Pohon dapat menghasilkan oksigen yang berfungsi mencegah atmosfer menipis, sehingga dapat mencegah global warming.  Oksigen yang dihasilkan oleh pohon membuat udara menjadi segar, dan hal ini sangat bagus bagi kesehatan.  Akar pohon dapat menahan tanah pada tanah-tanah yang berbukit sehingga tidak terjadi tanah longsor.  Selain itu, akar pohon dapat menyerap air hujan sehingga tidak terjadi banjir.
Dari masalah yang terungkap diatas maka dari itu penyusun ingin mengetahui banyaknya pohon yang terdapat di perkarangan kampus Fikom UIR serta manfaat dan kegunaannya.

1.2    Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dan manfaat dari penulisan laporan hasil penghitungan jumlah pohon yang ada di pekarangan gedung Fikom UIR, adalah:
  1. Menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Bapak Drs. T. Ariful Amri dengan mata kuliah Biologi Umum.
  2. Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti ujian akhir semester (UAS).
  3. Untuk menambah pengetahuan tentang pohon yang ada di sekitar kampus Fikom pada khususnya dan kampus Universitas Islam Riau pada umumnya.
  4. Sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya manfaat pohon bagi lingkungan hidup.






















BAB II
METODE PENELITIAN

2.1. Waktu dan Tempat
Penelitian dan pengumpulan data ini dilaksanakan di kampus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Riau pada 15 November 2010 jam 11.00 WIB & pada tanggal 17 November 2010 pukul 09.00 WIB.
2.2.Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan sebagai bahan penelitian  adalah  pohon-pohon yang ditanam di sekitar Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi ( FIKOM )
Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian jumlah pohon ini antara lain meteran, pena dan buku yang digunakan untuk mencatat data yang didapat dari penelitian di lapangan.
2.3. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini menggunakan metode survey dan observasi langsung, yaitu terjun langsung ke lapangan. Dilanjutkan dengan mengumpulkan data dari hasil observasi langsung di lapangan.
2.4. Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan pola survey dan observasi langsung dilapangan. Untuk data primer meliputi jumlah pohon, jenis pohon, nama pohon, manfaat pohon, dan hal yang berhubungan dengan data yajng diperlukan saat observasi langsung.
Sedangkan data sekunder diperoleh dari mewawancarai kepala kebun percobaan Fak. Pertanian UIR, Bpk. Joni Syafrinaldi serta informasi dari Internet mengenai data yang diperlukan.

2.5.Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian yaitu melakukan pengukuran terhadap diameter pohon, tinggi pohon dan mengukur jarak pohon dari pohon yang lain.
2.6.  Analisis Data
Setelah melakukan survey langsung dilapangan kami peroleh data pohon yang terdapat di Fikom UIR diidentifikasikan kedalam bentuk tabel kemudian menganalisis banyaknya jumlah pohon jenis pohon serta manfaatnya bagi lingkungan hidup.



















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1  Hasil Penelitian
Dari penelitian  yang dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Pohon Pule (Alstonia Scholaris)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
17,19
± 5
± 3
4,5
2
18,79
± 5,3
± 3
4,5
3
22,60
± 5,8
± 3
4,5
4
12,73
± 4,3
± 3
4,5
5
18,15
± 5,2
± 3
4,5
6
12,73
± 4,3
± 3
4,5
7
14,64
± 4,7
± 3
4,5
8
15,92
± 4,9
± 3
4,5
9
14,96
±  4,6
± 3
4,5
10
14,33
± 4,7
± 3
4,5
11
19,23
± 5,3
± 3
4,5
12
22,29
± 5,8
± 3
4,5
13
15,60
± 4,9
± 3
4,5
14
10,51
± 3,8
± 3
4,5
15
20,38
± 5,4
± 3
4,5
16
20,70
± 5,6
± 3
4,5
17
19,10
± 5,2
± 3
4,5
18
17,51
± 5,0
± 3
4,5
19
19,74
± 5,3
± 3
4,5
20
26.11
±  6
± 3
4,5
21
22,80
± 5,8
± 3
4,5
22
22,70
± 5,7
± 3
4,5
23
18,91
± 5,1
± 3
4,5
24
16,56
± 4,9
± 3
4,5
25
16,87
± 4,9
± 3
4,5
26
16,24
± 4,7
± 3
4,5

2. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
70,06
± 12
± 20
8

2
61,78
± 12
± 20
8

3
70,06
± 12
± 20
8

4
112,10
± 4
± 7
8

5
52,23
± 12
± 20
8

6
80,57
± 12
± 20
8



3.      Buah Roda
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
25,5
± 5
± 7
-


4. Pucuk Merah (syzygium oleina)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(cm)
Prakiraan Umur
 (Bulan)
Jarak Tanam
(M)
1
2
± 60
± 6
4 x 5
2
2
± 60
± 6
4 x 5
3
2
± 60
± 6
4 x 5
4
2
± 60
± 6
4 x 5
5
2
± 60
± 6
4 x 5
6
2
± 60
± 6
4 x 5
7
2
± 60
± 6
4 x 5
8
2
± 60
± 6
4 x 5
9
2
± 60
± 6
4 x 5
10
2
± 60
± 6
4 x 5
11
2
± 60
± 6
4 x 5
12
2
± 60
± 6
4 x 5
13
2
± 60
± 6
4 x 5
14
2
± 60
± 6
4 x 5
15
2
± 60
± 6
4 x 5
16
2
± 60
± 6
4 x 5

5.Akasia (Acacia Auriculiformis)

No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
74,84
±  13
± 20
9
2
138,53
±  13
± 20
9
3
75,16
±  13
± 20
9
4
90,76
±  13
± 20
9
5
42,99
±  13
± 20
9
6
52,54
±  13
± 20
9
7
43,63
±  13
± 20
9
8
53,73
±  13
± 20
9
9
71,65
±  13
± 20
9
10
57,32
±  13
± 20
9
11
38,85
±  13
± 20
9
12
47,77
±  13
± 20
9
13
45,23
±  13
± 20
9

 6.Mahoni (Swietenia macrophyila)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
18,43
±  6
± 7
9
2
16,33
±  6
± 7
9


7. Matoa (Pometia pinnata)                     
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
8,28
± 3,5
± 3
3,5
2
12,73
± 3,5
± 3
3,5
3
7,32
± 3,5
± 3
3,5
4
8,18
± 3,5
± 3
3,5
5
9,55
± 3,5
± 3
3,5
6
7,32
± 3,5
± 3
3,5
7
14,33
± 3,5
± 3
3,5
8
10,50
± 3,5
± 3
3,5
9
8,91
± 3,5
± 3
3,5
10
8,28
± 3,5
± 3
3,5
11
7,2
± 3,5
± 3
3,5
12
8,14
± 3,5
± 3
3,5
13
8,41
± 3,5
± 3
3,5
14
7,96
± 3,5
± 3
3,5
15
7,64
± 3,5
± 3
3,5
16
6,36
± 3,5
± 3
3,5
17
9,87
± 3,5
± 3
3,5
18
7,32
± 3,5
± 3
3,5
19
7,64
± 3,5
± 3
3,5
20
12,10
± 3,5
± 3
3,5
21
7,32
± 3,5
± 3
3,5
22
9,87
± 3,5
± 3
3,5
23
8,50
± 3,5
± 3
3,5
34
10,50
± 3,5
± 3
3,5
25
8,36
± 3,5
± 3
3,5
26
15,28
± 3,5
± 3
3,5
27
10,82
± 3,5
± 3
35
28
21,97
± 3,5
± 3
3,5


8. Mangga (Mangifera indica)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
33,44
± 7
± 10
4
2
37,43
± 7,6
± 10
4
3
7,64
± 3,5
± 3
4

9. Palem Putri (Veitchia merillii)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Bulan)
Jarak Tanam
(M)
1
6,06
± 1,3
± 6
2
2
6,06
± 1,3
± 6
2
3
6,06
± 1,3
± 6
2
4
6,06
± 1,3
± 6
2
5
6,06
± 1,3
± 6
2
6
6,06
± 1,3
± 6
2
7
6,06
± 1,3
± 6
2
8
6,06
± 1,3
± 6
2
9
6,06
± 1,3
± 6
2

10.Eukaliptus (Eucalyptus platyphylla )
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
14,33
± 6
± 3
5,4
2
17,51
± 6
± 3
5,4
3
12,10
± 6
± 3
5,4
4
18,15
± 6
± 3
5,4
5
25,79
± 6
± 3
5,4

11. Nangka (Artocarpus integra)
No*
Diameter Batang (cm)
Tinggi Pohon
(M)
Prakiraan Umur
 (Tahun)
Jarak Tanam
(M)
1
23,43
± 2,5
± 7
-

3.2  Pembahasan
Dari data yang diperoleh dilapangan  jumlah pohon di sekitar gedung Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UIR didapatkan bahwa jumlah pohon yang terdapat di sekitar gedung Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UIR yaitu 110 (seratus sepuluh) pohon.
 110 (seratus sepuluh) pohon tersebut terdiri dari: 26 sample pohon pule, 6 kelapa sawit, 3 pohon mangga, 13 pohon akasia, 2 pohon mahoni, 5 pohon eukaliptus, 1 pohon nangka, 9 pohon palem putri, 28 pohon matoa, 16 pohon pucuk merah serta 1 pohon buah roda.

Dari kesemuanya dapat dilihat pada tabel yang telah kami buat, mulai dari diameter batang, tinggi pohon, prakiraan umur, serta jarak tanam, yang tentunya memiliki diameter yang berbeda, tinggi pohon yang berbeda, dan lain-lainnya. Hal ini terjjadi dapat disebabkan karena tahun tanam yang berbeda serta cepat tidaknya pohon itu berkembang ataupun tumbuh.
Dibawah ini kami juga menyertakan berbagai manfaat dari pohon yang kami teliti, juga bagaimana pohon itu tumbuh serta berbagai hal yang diperlukan untuk mengetahui lebih banyak lagi informasi tentang pohon yang kami teliti.


Berbagai informasi tentang pohon yang kami teliti diantaranya :
1.                  Mahoni
nama latin: Swietenia mahagoni Jacq.     
Sinonim : = S. macrophylla, King. = S. mahagoni, (Bl.), Jacq.
    
Familia : Meliaceae
          
Tentang Mahoni:
           
Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung. Tanaman yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai. Pohon, tahunan, tinggi 5-25 m, berakar tunggang, batangnya bulat, banyak bercabang dan kayunya bergetah. Daunnya daun majemuk menyirip genap, helaian daun bentuknya bulat telur, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, tulang menyirip, panjang 3-15 cm. Daun muda berwarna merah, setelah tua warnanya hijau. Bunganya bunga majemuk tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. ibu tangkai bunga silindris, warnanya coklat muda.
Kelopak bunga lepas satu sama lain,bentuknya seperti sendok, warnanya hijau.  
Mahkota silindris, kuning kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sari putih, kuning kecoklatan. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun. Buahnya buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya coklat. Biji pipih, warnanya hitam atau coklat. Mahoni merupakan pohon penghasil kayu keras dan digunakan untuk keperluan perabot rumah tangga serta barang ukiran, Perbanyakan dengan biji.
Sebutan Lokal :
    
Mahagoni, maoni, moni.;
 
Penyakit yang dapat diobati:    
Tekanan darah tinggi (Hipertensi), Kurang napsu makan, Demam; Kencing manis (Diabetes mellitus), Masuk angin, Ekzema, Rematik; 
Pemanfaatan :
      
Bagian Yang Dipakai :
     
Biji, dikeringkan lalu digiling halus menjadi serbuk.
       

Kegunaan :     
- Tekanan darah tinggi (Hipertensi).
        
- Kencing manis (Diabetes mellitus).
       
- Kurang napsu makan,
    
- Rematik.

- Demam.
 
- Masuk angin.
     
- Ekzema.
 
Pemakaian :
          
Untuk minum: 1/2 sendok teh biji yang telah digiling halus menjadi serbuk.

Cara Pemakaian:
           
1. Hipertensi:
      
a. 8 gram biji segar diseduh dengan 2 gelas air panas. Setelah
dingin disaring lalu dibagi menjadi 2 bagian. Minum pagi dan sore
hari.
b. 1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/2 cangkir
air panas, tambahkan 1 sendok makan madu. Minum selagi
hangat, lakukan 2-3 kali sehari.
    
2. Kencing manis:           
1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/3 cangkir air
panas. Diminum selagi hangat, 30 menit sebelum makan. Lakukan
2-3 kali sehari.
      
3. Kurang napsu makan:
           
1/2 sendok teh serbuk biji mahoni diseduh dengan 1/3 cangkir air
panas, tambahkan 1 sendok makan madu. Minum selagi hangat,
lakukan 2-3 kali sehari.
    
4. Demam, masuk angin:
           
1/2 sendok teh serbuk biji mahoni.diseduh dengan 1/4 cangkir air
panas, lalu tambahkan 1 sendok makan madu. Diminum selagi
hangat, lakukan 2-3 kali sehari.
    
Zat yang terkandung:
    
Buah mahoni memiliki zat bernama flavonolds dan saponins.
Flavonolds sendiri dikenal berguna untuk melancarkan peredaran darah. Jadi bagi para penderita penyakit yang menyebabkan tersumbatnya aliran darah bisa memakai buah ini sebagai obat. Khasiat flavonolds ini juga bisa untuk mengurangi kolesterol, penimbunan lemak pada saluran darah, mengurangi rasa sakit, pendarahan dan lebam, serta bertindak sebagai antioksidan untuk menyingkirkan radikal bebas.

Sementara itu, saponins memiliki khasiat sebagai pencegah penyakit sampar, bisa juga untuk mengurangi lemak di badan, membantu meningkatkan sistem kekebalan, men-cegah pembekuan darah, serta menguatkan fungsi hati dan memperlambat proses pembekuan darah.
     
Kini buah mahoni banyak dijual pada bentuk ekstrak. Bahkan dalam kemasan tersebut, khasiat mahoni disinyalir bisa untuk membesarkan payudara, selain juga diperkirakan sangat berguna untuk kehalusan kulit.
2.         PULE
Pule (Alstonia Scholaris) dikenal dengan banyak sebutan: pulai (sumatera), lame (Sunda), polay (madura), hanjalutung (Kalimantan), kaliti, reareangou,; bariangow, rariangow, wariangow, mariangan, deadeangow, kita (Minahasa), rite (Ambon), tewer (Banda), Aliag (Irian), hange (Ternate), kayu gabus, Chatian;saitan-ka-jhad; saptaparna (India, Pakistan), Co tin pat; phayasattaban (Thailand), Australian quinine bark tree, bitter-bark tree, blackboard tree, chatiyan wood, Devil tree, dita bark tree, Milkwood tree, Milky Pine, white cheesewood tree, shajaratah fi asya al-harrah, Daivappala, dll.
Banyaknya nama dibarengi dengan banyaknya manfaat dari pohon ini, yang antara lain sebagai:
1. obat herbal untuk beragam penyakit
2. bahan baku furniture
3. bahan baku kerajinan (golek, patung, tatakan gelas, piring kayu, mainan, dll)
4. bahan baku pensil
5. bahan baku pulp dan kertas
6. bahan baku batang korek api
7. bahan baku papan tulis
8. bahan baku dalam pembuatan salon, sub woofer dll
9. tanaman perintis untuk lahan kritis
10. bahan baku pembuatan kotak kemasan (box)
11. kayu bakar (sudah pasti)
Segudang manfaat yang dapat dipetik dari pule mempercepat spesies ini mencapai kelangkaan. masyarakat lebih rajin menebang pohon ini daripada menabung. penebangan (liar maupun resmi) yang tidak diimbangi dengan penanamannya. Mau enaknya saja.
Untung saja, belakangan ini mulai tumbuh kesadaran di kalangan sebagian orang bijak di negeri ini untuk menanam pohon pule. entah karena dipicu oleh isu global warming maupun kesadaran berinvestasi untuk masa depan yang lebih baik.
isu kelangkaan pule mendorong lahirnya blog http://pule3.wordpress.com untuk memperkenalkan kembali pohon multifungsi ini sekaligus memfasilitasi penyediaan bibitnya.

3.         KELAPA SAWIT
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

Pemerian botani

African Oil Palm (Elaeis guineensis)
Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.
Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.
Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.
Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.
Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
  • Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
  • Mesoskarp, serabut buah
  • Endoskarp, cangkang pelindung inti
Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).

Syarat hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.

Tipe kelapa sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali dan terluas dibudidayakan orang. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari
  • Dura,
  • Pisifera, dan
  • Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.
Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

Hasil tanaman

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[1]
Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

 

Sejarah perkebunan kelapa sawit

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1911.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.[2]
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

4.         AKASIA


Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Upafamili:
Bangsa:
Genus:
Acacia
Mill.[1]
Spesies

Akasia (ejaan Inggris: [əˈkeɪʃə]) adalah genus dari semak-semak dan pohon yang termasuk dalam subfamili Mimosoideae dari famili Fabaceae, pertama kali diidentifikasi di Afrika oleh ahli botani Swedia Carl Linnaeus tahun 1773. Banyak spesies Akasia non-Australia yang cenderung berduri, sedangkan mayoritas Akasia Australia tidak. Akasia adalah tumbuhan polong, dengan getah dan daunnya biasanya mempunyai bantalan tannin dalam jumlah besar. Nama umum ini berasal dari ακακία (akakia), nama yang diberikan oleh dokter-ahli botani Yunani awal Pedanius Dioscorides (sekitar 40-90 Masehi) untuk pohon obat A. nilotica dalam bukunya Materia Medica.[2] Nama ini berasal dari kata bahasa Yunani karena karakteristik tanaman Akasia yang berduri, ακις (akis, "duri").[3] Nama spesies nilotica diberikan oleh Linnaeus dari jajaran pohon Akasia yang paling terkenal di sepanjang sungai Nil.
Akasia juga dikenal sebagai pohon duri, dalam bahasa Inggris disebut whistling thorns ("duri bersiul ") atau Wattles,atau yellow-fever acacia ("akasia demam kuning") dan umbrella acacias ("akasia payung").
Sampai dengan tahun 2005, ada diperkirakan sekitar 1.300 spesies akasia di seluruh dunia, sekitar 960 dari mereka adalah flora asli Australia, dengan sisanya tersebar di daerah tropis ke daerah hangat dan beriklim sedang dari kedua belahan bumi, termasuk Eropa, Afrika, Asia selatan, dan Amerika . Namun, genus ini kemudian dibagi menjadi lima, dengan nama Acacia hanya digunakan untuk spesies Australia, dan sebagian besar spesies di luar Australia dibagi menjadi Vachellia dan Senegalia
5.         MATOA
Pometia pinnata J.R.& G.Forst Nama umum
Indonesia:
Matoa
Inggris:
Fijian Longan
Melayu:
Kasai

Matoa
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
          
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
        
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
     
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
           
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
         
Sub Kelas: Rosidae
    
Ordo: Sapindales
       
Famili: Sapindaceae
  
Genus: Pometia
          
Spesies: Pometia pinnata J.R.& G.Forst
        

Deskripsi
Tumbuhan berbentuk pohon, tinggi 20 - 40 m. Akar tunggang. Batang silindris, tegak, warna putih kotor, permukaan kasar, percabangan simpodial, arah cabang miring hingga datar, bercabang banyak sehingga membentuk pohon yang rindang. Daun majemuk, tersusun berseling, 4 - 12 pasang anak daun, saat muda berwarna merah cerah - setelah dewasa menjadi hijau, bentuk jorong, panjang 30 - 40 cm, lebar 8 - 15 cm, helaian daun tebal dan kaku, ujung meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus - berlekuk pada bagian pertulangan. Buah bulat atau lonjong, panjang 5 - 6 cm, buah berwarna hijau kadang merah atau hitam (tergantung varietas), bentuk biji bulat - berwarna cokelat muda, daging buah lembek, berwarna putih kekuningan. Perbanyaan generatif (biji)
Matoa (Pometia pinnata)     
Buah dengan aroma nano-nano (rambutan, lengkeng, durian)
  
Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman khas Papua dan menjadi flora identitas Provinsi Papua Barat. Matoa termasuk ke dalam famili Sapindaceae. Pohon matoa dapat tumbuh tinggi dan memiliki kayu yang cukup keras. Tinggi pohon 50 m, akar papan tingginya mencapai 5 m, daun majemuk berseling, bersirip genap, tangkai daun panjang ± 1 m, anak daun 4 - 13 pasang bentuknya bundar memanjang dengan tepi yang bergerigi. Mahkota bunga agak berbulu pada bagian luar, kelopak bunga agak menyatu.

Buahnya berbentuk bulat melonjong seukuran telur puyuh atau buah pinang (keluarga Palem) dengan panjang 1,5-5 cm dan berdiameter 1-3 cm, kulit licin berwarna coklat kehitaman bila masak (kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang menyebut hijau-kekuningan).
Kulit ari putih bening melekat pada biji, manis dan harum.
                       
Rasa buahnya "ramai", dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka yang suka.

Tanaman ini mudah diperbanyak/ dikembang biakkan melalui biji, dan cara lain seperti cangkok serta okulasi. Matoa tumbuh di daerah yang sejuk atau dengan kata lain lebih mudah tumbuh di pada ketinggian 900 - 1700 m dpl, topografi datar atau miring, meskipun dapat pula tumbuh di dataran rendah, dengan waktu berbunga bulan Juli - Agustus dan berbuah pada bulan November - Februari.
       

Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.
         

Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin disebut pometia pinnata.
Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.  
Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak (mantan) presiden Megawati mencanangkan penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, beberapa tahun yang lalu.

Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan, bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan kayunya juga cukup indah.
   

Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Papua.

Perkembangbiakan

Tanaman ini mudah diperbanyak/dikembangbiakkan melalui biji, dan cara lain seperti cangkok serta okulasi. Matoa tumbuh di daerah yang sejuk atau dengan kata lain lebih mudah tumbuh di daerah dataran tinggi, meskipun dapat pula tumbuh di dataran rendah.

6. Eucalyptus platyphylla  Nama umum
Inggris:
Poplar gum, white gum
Eucalyptus platyphylla 

Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
          
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
        
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
     
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
           
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
         
Sub Kelas: Rosidae
    
Ordo: Myrtales
           
Famili: Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
      
Genus: Eucalyptus
     
Spesies: Eucalyptus platyphylla 
       
Kerabat Dekat

Ampupu, Leda
Eucalyptus merupakan salah satu tanaman yang bersifat multifungsi. Hampir semua bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Daun eucalyptus yang mengandung tanin juga digunakan untuk mengatasi peradangan, sedangkan cineole yang diperoleh dari daun dan ranting eucalyptus merupakan antiseptik alami.
Salah satu manfaat tanaman ini, yaitu sering digunakan untuk mengatasi berbagai gangguan kesehatan, misalnya untuk menangani gangguan pernapasan, batuk, pilek, ataupun sinusitis. Dalam buku Natural Remedies, Karen Sullivan menuliskan bahwa eucalyptus memiliki bahan perangsang kekebalan serta pereda nyeri lokal yang efektif, terutama untuk nyeri saraf.
Eucalyptus sebagai besar diproduksi dalam bentuk minyak, termasuk minyak esensial. Bila dipakai untuk obat luar, akan memberi efek menenangkan.
Di samping itu, aroma eucalyptus juga dapat melancarkan peredaran darah dengan cara mengaktivasi fungsi sel darah merah. Kondisi ini membuat suplai oksigen meningkat ke seluruh tubuh. Efeknya, konsentrasi dan kapasitas daya pikir akan meningkat.
Atasi stres
Memang, ada banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari penggunaan eucalyptus ini. Liani Widjaja, aromaterapis dan juga pemilik situs Aromatherapy at Home, menjelaskan beberapa kegunaan eucalyptus.
• Stimulan dan pereda stres. Minyak eucalyptus dapat meningkatkan aktivitas jantung. Selain itu, daun dan minyak eucalyptus juga memberi aroma yang berguna dalam mengatasi stres maupun kelelahan.
• Meredakan demam. Penggunaan secara eksternal dapat meredakan demam yang muncul akibat infeksi. Jumlah yang dibutuhkan pun hanya sedikit. Kompres bisa diberikan pada kening, tengkuk bagian belakang, dan dekat dengan pelvis.
Pereda nyeri. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan eucalyptus pada kulit dapat mengurangi rasa nyeri pada otot dan sendi.
• Mengatasi gangguan pernapasan. Batuk, sakit tenggorokan, asma, merespon pengobatan yang mengandung eucalyptus. Untuk meredakan batuk, aplikasikan minyak eucalyptus di dada penderita.
• Penanganan sinusitis. Eucalyptus membantu mengatasi gangguan saluran pernapasan dan bermanfaat meredakan keluhan sinusitis dan pilek.
• Meredakan rematik, artritis, dan nyeri muskular.
Hal di atas diperkuat dengan beberapa opini dalam Situs Healthline yang menyebutkan bahwa minyak eucalyptus menjadi salah satu komponen dari banyak obat topikal untuk mengatasi artritis dan bersifat analgesik.
Eucalyptus bekerja dengan cara menstimulasi aliran darah dan membuat rasa hangat di area yang dioles, sehingga mampu meredakan nyeri pada otot atau persendian. Patricia Davis menulis bahwa eucalyptus juga dapat digunakan untuk meredakan nyeri rematik, nyeri muskular, maupun fibrositis.
Redakan nyeri
Dengan segudang manfaat itu, terutama yang terkait dengan ketegangan otot, eucalyptus kemudian dijadikan salah satu bahan tambahan krim pereda nyeri otot. Kombinasi krim analgesik dan eucalyptus tentu saja memberikan efek ganda pada penggunanya. Selain efektif untuk redakan nyeri pada otot juga memberikan efek rileksasi bagi penggunanya.
Rasa hangat yang dihasilkan oleh krim tersebut mampu melenturkan pembuluh darah, yang selanjutnya akan memperlancar peredaran darah dan memberikan efek kesegaran dan rileksasi. Krim pereda nyeri otot tersebut juga sangat berguna bila rasa nyeri otot atau pegal menyerang di sela-sela aktivitas.
Seperti yang dirasakan Suwandi. Petugas dokumentasi di sebuah media olahraga terkemuka ini kerap menggunakan krim pereda nyeri otot di tengkuk dan pundaknya yang beraroma eucalyptus. “Selain hangat, aroma eucalyptus-nya membuat saya lebih rileks,” tutur ayah satu anak ini.
Suwandi memang sering mengeluhkan nyeri tengkuk dan pundak. Kondisinya ini tak lain karena pekerjaan mengharuskan ia berlama-lama di depan layar komputer untuk mencari foto-foto atlet luar negeri.
Menghabiskan waktu lama di depan layar komputer dengan posisi seperti itu terus-menerus membuat otot pada tengkuk dan pundak terasa nyeri dan kaku. Ditambah lagi, Wandi jarang beristirahat ataupun sekadar melakukan peregangan. Karena itu, nyeri pada tengkuk dan pundak kian terasa.
Nyeri yang dialami tidak akan terjadi bila saat bekerja, posisi tubuh baik dan di setiap waktu tubuh diistirahatkan. Perlu diingat, posisi tubuh yang buruk ketika sedang duduk maupun berdiri, ketegangan otot, maupun cedera punggung bisa menimbulkan nyeri tengkuk.
Faktanya, seperti disebutkan dalam sebuah situs kesehatan, sekitar 50 persen dari orang yang mengalami nyeri punggung, yaitu sebanyak 80 persen dari populasi, juga mengalami nyeri tengkuk. Mereka yang mengalami artritis rematoid, fibromialgia, dapat timbul nyeri otot di sekujur tubuhnya, termasuk nyeri tengkuk.
Untuk itu, coba lihat lagi postur tubuh Anda saat duduk, bekerja, maupun berdiri. Kalau Anda cenderung duduk menggelosor di kursi selama beberapa waktu, jangan kaget bila kemudian muncul nyeri di tengkuk dan pundak.
Nyeri otot yang terjadi juga harus dicari penyebabnya. Kalau penyebab nyeri tengkuk dan pundak sudah diketahui, kita akan lebih mudah mencari jalan keluarnya.  Sumber: Senior
7. Nangka (Artocarpus heterophyllus)
Nangka (Artocarpus heterophyllus)

a.Morfologi tumbuhan        
Pohon A. heterophyllus (nangka) memiliki tinggi 10-15 m. batangnya tegak, berkayu, bulat, kasar dan berwarna hijau kotor. Daun A. heterophyllus tunggal, berseling, lonjong, memiliki tulang daun yang menyirip, daging daun tebal, tepi rata, ujung runcing, panjang 5-15 cm, lebar 4-5 cm, tangkai panjang lebih kurang 2 cm dan berwarna hijau. Bunga nangka merupakan bunga majemuk yang berbentuk bulir, berada di ketiak daun dan berwarna kuning. Bunga jantan dan betinanya terpisah dengan tangkai yang memiliki cincin, bunga jantan ada di batang baru di antara daun atau di atas bunga betina. Buah berwarna kuning ketika masak, oval, dan berbiji coklat muda (Heyne. K, 1987).
b.Klasifikasi tanaman          
Kingdom : Plantae
     
Divisio : Magnoliophyta
        
Class : Magnoliopsida

Ordo : Urticales
         
Familia : Moraceae
     
Genus : Artocarpus
    
Spesies : Artocarpus heterophyllus
    
(Syamsuhidayat, S.S and Hutapea, J.R, 1991)
c.Kandungan kimia dan manfaat tanaman           
Daun tanaman ini jg di rekomendasikan oleh pengobatan ayurveda sebagai obat antidiabetes karena ekstrak daun nangka memberi efek hipoglikemi (Chandrika, 2006). Selain itu daun pohon nangka juga dapat digunakan sebagai pelancar ASI, borok (obat luar), dan luka (obat luar). Daging buah nangka muda (tewel) dimanfaatkan sebagai makanan sayuran yang mengandung albuminoid dan karbohidrat. Sementara biji nangka dapat digunakan sebagai obat batuk dan tonik (Heyne. K, 1987). Biji nangka dapat diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai bahan baku industri makanan (bahan makan campuran). Khasiat kayu sebagai anti spasmodic dan sedative, daging buah sebagai ekspektoran, daun sebagai laktagog. Kayu nangka dianggap lebih unggul daripada jati untuk pembuatan meubel, konstruksi bangunan pembubutan, tiang kapal, untuk tiang kuda dan kandang sapi, dayung, perkakas, dan alat musik. Getah kulit kayu juga telah digunakan sebagai obat demam, obat cacing dan sebagai antiinflamasi. Pohon nangka dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Kandungan kimia dalam kayu adalah morin, sianomaklurin (zat samak), flavon, dan tanin. Selain itu, dikulit kayunya juga terdapat senyawa flavonoid yang baru, yakni morusin, artonin E, sikloartobilosanton, dan artonol B (Ersam T, 2001). Bioaktivitasnya terbukti secara empiric sebagai antikanker, antivirus, antiinflamasi, diuretil, dan antihipertensi (Ersam T, 2001).
Nangka kaya akan vitamin A yang baik bagi kesehatan mata dan kalium untuk menangkal hipertensi. Buah yang manis dan harum ini juga punya nilai ekonomi yang tinggi.
Nangka adalah salah satu jenis buah yang paling banyak ditanam di daerah tropis. Buah ini cukup terkenal di seluruh dunia. Dalam bahasa Inggris dinamakan jack fruit. Tanaman ini diduga berasal dari India bagian selatan yang kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia, pohon nangka dapat tumbuh hampir di setiap daerah.
Tanaman nangka yang berkerabat dekat dehgan cempedak, keluwih, dan sukun, merupakan tanaman buah tahunan. Umur tanamannya panjang, dapat mencapai puluhan tahun. Tinggi tanaman dapat mencapai 25 m. Panjang buah nangka berkisar 30-90 cm, diameter 25-50 cm, dengan berat rata-rata 15-20 kg, walaupun ada yang mencapai 40-50 kg. Produksi buah cukup beragam, ada yang bisa menghasilkan 60 buah per pohon per tahun.
Di Indonesia, pohon ini memiliki beberapa nama daerah antara lain nongko/nangka (Jawa, Gorontalo), langge (Gorontalo), anane (Ambon), lumasa/malasa (Lampung), nanal atau krour (Papua). Sebutan untuk nangka di beberapa negara adalah: nangka (Malaysia), kapiak (Papua Nugini), liangka (Filipina), peignai (Myanmar), khnaor (Kamboja), mimiz atau miiz hnang (Laos), khanun (Thailand), serta mit (Vietnam).
Kalsium dan Fosfor
Bagian dari buah nangka yang umum dikonsumsi adalah nangka muda, nangka masak, dan bijinya. Komposisi gizi dari setiap bagian tersebut dapat dilihat pada tabel. Nangka muda memiliki komposisi mineral yang cukup bagus, terutama kalsium dan fosfor, masing-masing sebesar 45 mg dan 29 mg per 100 gram. Keunggulan lain dari nangka muda adalah mengandung karbohidrat (11,3 g/100 g) dan vitamin C (9 mg/100 g).
Biji nangka merupakan sumber karbohidrat (36,7 g/100 g), protein (4,2 d/100 g), dan energi (165 kkal/100 g), sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yang potensial. Biji nangka juga merupakan sumber mineral yang baik. Kandungan mineral per 100 gram Biji nangka adalah fosfor (200 mg), kalsium (33 mg), dan besi (1,0 mg). Selain dapat dimakan dalam bentuk utuh, biji nangka juga dapat diolah menjadi tepung. Selanjutnya dari tepungnya dapat dihasilkan berbagai makanan olahan.
Keunggulan utama nangka masak dibandingkan nangka muda dan biji nangka adalah memilk kadar vitamin A yang tinggi, yaitu 330 SI per 100 g daging buah. Vitamin A berperan dalam menjaga agar kornea mata selalu sehat. Mata yang normal biasanya mengeluarkan mukus, yaitu cairan lemak kental yang dikeluarkan sel epitel mukosa, sehingga membantu mencegah terjadinya infeksi.
Namun, bila kekurangan vitamir A, sel epitel akan mengeluarkan keratin, sel-sel membran akan kering dan mengeras. Keadaan tersebut dikenal dengan istilah keratinisasi. Keadaan tersebut bila berlanjut akan menyebabkan, penyakit xeroftalmia, yang bila tidak diobati akan menjadi buta.
Selain itu, buah nangka juga mengandung vitamin C dan vitamin B kompleks. Mineral esensial yang dibutuhkan tubuh seperti kalsium, sang, besi, magnesium, selenium, dan tembaga, juga terdapat pada buah nangka.
Kandungan kalium pada buah nangka masak cukup baik, yaitu mencapai 303 mg/100 g. Meningkatnya konsumsi kalium dapat menurunkan tekanan darah tinggi. Bukti epidemiologis menunjukkan adanya korelasi negatif antara konsumsi kalium (K) dengan hipertensi, baik pada orang-orang yang tekanan darahnya normal maupun mereka yang bertekanan darah tinggi. Dugaan lain menyebutkan bahwa tingginya rasio kalium terhadap natrium bertanggung jawab terhadap menurunnya hipertensi.
Pada nangka masak, kadar natriumnya (Na) sangat rendah, yaitu 3 mg/100 g, sehingga rasio K terhadap Na mencapai 100:1. Tubuh seorang dewasa mengandung kalium (250 g) dua kali lebih banyak daripada natrium (110 g). Walapun demikian, biasanya konsumsi kalium dari bahan pangan lebih sedikit daripada natrium, terutama pada pangan-pangan olahan yang banyak menggunakan garam atau penyedap masakan (monosodium glutamat = MSG).

8. Mangga

?Mangga

Buah mangga gedong
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
M. indica
Mangifera indica
L.
Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Nama ilmiahnya adalah Mangifera indica.
Pohon mangga termasuk tumbuhan tingkat tinggi yang struktur batangnya (habitus) termasuk kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Mangga bisa mencapai tinggi 10-40 m.
Nama buah ini berasal dari Malayalam maanga. Kata ini dipadankan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga; dan pada pihak lain, kata ini dibawa ke Eropa oleh orang-orang Portugis dan diserap menjadi manga (bahasa Portugis), mango (bahasa Inggris) dan lain-lain. Nama ilmiahnya sendiri kira-kira mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”.
Berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma, mangga telah menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam. Buah ini dikenal pula dalam berbagai bahasa daerah, seperti pelem atau poh (Jw.).
 Pemeliharaan
Pohon mangga berperawakan besar, dapat mencapai tinggi 40 m atau lebih, meski kebanyakan mangga peliharaan hanya sekitar 10 m atau kurang. Batang mangga tegak, bercabang agak kuat; dengan daun-daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang, dengan diameter sampai 10 m. Kulit batangnya tebal dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun. Warna pepagan (kulit batang) yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam.
Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, sangat panjang hingga bisa mencapai 6 m. Akar cabang makin ke bawah semakin sedikit, paling banyak akar cabang pada kedalaman lebih kurang 30-60 cm.
Daun tunggal, dengan letak tersebar, tanpa daun penumpu. Panjang tangkai daun bervariasi dari 1,25-12,5 cm, bagian pangkalnya membesar dan pada sisi sebelah atas ada alurnya. Aturan letak daun pada batang biasanya 3/8, tetapi makin mendekati ujung, letaknya makin berdekatan sehingga nampaknya seperti dalam lingkaran (roset).
Helai daun bervariasi namun kebanyakan berbentuk jorong sampai lanset, 2-10 × 8-40 cm, agak liat seperti kulit, hijau tua berkilap, berpangkal melancip dengan tepi daun bergelombang dan ujung meluncip, dengan 12-30 tulang daun sekunder. Beberapa variasi bentuk daun mangga:
  • Lonjong dan ujungnya seperti mata tombak.
  • Berbentuk bulat telur, ujungnya runcing seperti mata tombak.
  • Berbentuk segi empat, tetapi ujungnya runcing.
  • Berbentuk segi empat, ujungnya membulat.
Daun yang masih muda biasanya bewarna kemerahan, keunguan atau kekuningan; yang di kemudian hari akan berubah pada bagian permukaan sebelah atas menjadi hijau mengkilat, sedangkan bagian permukaan bawah berwarna hijau muda. Umur daun bisa mencapai 1 tahun atau lebih.

Bunga

Berumah satu (monoecious), bunga mangga merupakan bunga majemuk yang berkarang dalam malai bercabang banyak di ujung ranting. Karangan bunga biasanya berbulu, tetapi sebagian ada juga yang gundul, kuning kehijauan, sampai 40 cm panjangnya. Bunga majemuk ini terdiri dari sumbu utama yang mempunyai banyak cabang utama. Setiap cabang utama ini mempunyai banyak cabang-cabang, yakni cabang kedua. Ada kemungkinan cabang bunga kedua ini mempunyai suatu kelompok yang terdiri dari 3 bunga atau mempunyai cabang tiga. Setiap kelompok tiga bunga terdiri dari tiga kuntum bunga dan setiap kuntum bertangkai pendek dengan daun kecil. Jumlah bunga pada setiap bunga majemuk bisa mencapai 1000-6000.
Bunga-bunga dalam karangan berkelamin campuran, ada yang jantan dan ada pula yang hermafrodit (berkelamin dua). Besarnya bunga lebih kurang 6-8 mm. Bunga jantan lebih banyak daripada bunga hermafrodit, dan jumlah bunga hermafrodit inilah yang menentukan terbentuknya buah. Persentase bunga hermafrodit bermacam-macam, tergantung dari varietasnya, yaitu antara 1,25%-77,9%; sementara yang mempunyai bakal buah normal kira-kira 5-10%.
Bunga mangga biasanya bertangkai pendek, jarang sekali yang bertangkai panjang, dan berbau harum. Kelopak bunga biasanya bertaju 5; demikian juga mahkota bunga terdiri dari 5 daun bunga, tetapi kadang-kadang ada yang 4 sampai 8. Warnanya kuning pucat, sedangkan pada bagian tengah terdapat garis timbul berjumlah 3 sampai 5 yang warnanya sedikit tua. Bagian tepi daun mahkota berwarna putih. Pada waktu akan layu, warna mahkota bunga tadi menjadi kemerahan.
Benang sari berjumlah 5 buah, tetapi yang subur hanya satu atau dua buah sedangkan yang lainnya steril. Benang sari yang subur biasanya hampir sama panjang dengan putik, yakni kira-kira 2 mm, sedangkan yang steril lebih pendek. Kepala putik berwarna kemerah-merahan dan akan berubah warna menjadi ungu pada waktu kepala sari membuka untuk memberi kesempatan kepada tepung sari yang telah dewasa untuk menyerbuki kepala putik. Bentuk tepung sari biasanya bulat panjang, lebih kurang 20-35 mikron.
Bakal buahnya tidak bertangkai dan terdapat dalam suatu ruangan, serta terletak pada suatu piringan. Tangkai putik mulai dari tepi bakal buah dan ujungnya terdapat kepala putik yang bentuknya sederhana. Dalam suatu bunga kadang-kadang terdapat tiga bakal buah.

Buah

Buah mangga termasuk kelompok buah batu (drupa) yang berdaging, dengan ukuran dan bentuk yang sangat berubah-ubah bergantung pada macamnya, mulai dari bulat (misalnya mangga gedong), bulat telur (gadung, indramayu, arumanis) hingga lonjong memanjang (mangga golek). Panjang buah kira-kira 2,5-30 cm. Pada bagian ujung buah, ada bagian yang runcing yang disebut paruh. Di atas paruh ada bagian yang membengkok yang disebut sinus, yang dilanjutkan ke bagian perut.
Kulit buah agak tebal berbintik-bintik kelenjar; hijau, kekuningan atau kemerahan bila masak. Daging buah jika masak berwarna merah jingga, kuning atau krem, berserabut atau tidak, manis sampai masam dengan banyak air dan berbau kuat sampai lemah. Biji berwarna putih, gepeng memanjang tertutup endokarp yang tebal, mengayu dan berserat. Biji ini terdiri dari dua keping; ada yang monoembrional dan ada pula yang poliembrional.

Hasil dan kegunaan

Mangga terutama ditanam untuk buahnya. Buah yang matang umum dimakan dalam keadaan segar, sebagai buah meja atau campuran es, dalam bentuk irisan atau diblender. Buah yang muda kerapkali dirujak, atau dijajakan di tepi jalan setelah dikupas, dibelah-belah dan dilengkapi bumbu garam dengan cabai. Buah mangga juga diolah sebagai manisan, irisan buah kering, dikalengkan dan lain-lain. Di pelbagai daerah di Indonesia, mangga (tua atau muda) yang masam kerap dijadikan campuran sambal atau masakan ikan dan daging.
Biji mangga dapat dijadikan pakan ternak atau unggas; di India bahkan dijadikan bahan pangan di masa paceklik. Daun mudanya dilalap atau dijadikan sayuran. Kayu mangga cukup kuat, keras dan mudah dikerjakan; namun kurang awet untuk penggunaan di luar. Kayu ini juga dapat dijadikan arang yang baik.
Daun mangga mengandung senyawa organik tarakserol-3beta dan ekstrak etil asetat yang bersinergis dengan insulin mengaktivasi GLUT4, dan menstimulasi sintesis glikogen, sehingga dapat menurunkan gejala hiperglisemia.[1]
Mangga terutama dihasilkan oleh negara-negara India, Tiongkok, Meksiko, Thailand, Pakistan, Indonesia, Brasil, Filipina, dan Bangladesh. Total produksi dunia di tahun ‘80an sekitar 15 juta ton, namun hanya sekitar 90.000 ton (1985) yang diperdagangkan di tingkat dunia. Artinya, sebagian besar mangga dikonsumsi secara lokal.
Sementara itu pasar utama mangga adalah Asia Tenggara, Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Singapura, Hong Kong dan Jepang merupakan pengimpor yang terbesar di Asia. Gambaran produksi mangga tahun 2007 dapat dilihat pada tabel di bawah.

Trivia

Mangga memiliki nilai-nilai kultural yang tinggi, khususnya di pelbagai negara di Asia bagian selatan. Di Filipina, buah ini merupakan simbol nasional. Dalam kitab suci Weda agama Hindu, mangga dianggap sebagai “hidangan para dewa”. Daun-daun mangga kerap digunakan secara ritual dalam dekorasi upacara perkawinan atau keagamaan Hindu.

Jenis yang berkerabat

Mangga sekerabat dengan bacang (M. foetida), kemang (M. kemanga), kuweni (M. odorata), kasturi dan banyak lagi. Daftar kerabat mangga selengkapnya dapat dilihat pada uraian mengenai marga Mangifera.

9. Buah Roda

Buah roda

Kerajaan:
Divisi:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
H. crepitans
Hura crepitans
L.
Buah roda (Hura crepitans.L)merupakan salah satu jenis dari suku Euphorbiaceae. Jenis ini disebut dengan buah roda karena buahnya mirip dengan roda. Tumbuhan ini di jawa tengah dan jawa timur disebut kuku macan karena pada buahnya terdapat sekat-sekat yang mirip kuku harimau. Buah roda biasanya ditanam di pinggir-pinggir jalan sebagai tanaman peneduh,tanaman hias dan tanaman obat.

Ciri Morfologi

Tanaman ini berupa pohon berperawakan besar, bergetah putih susu, lebar tajuk kurang lebih 10 m,berbatang lurus,batang berduri rapat,tinggi hingga 20 m.Daun tunggal, bertangkai, berbentuk jantung,tepi daun bergerigi,kelompok bunga jantan terpisah dengan bunga betina buah berbentuk bulat seperti roda,beralurdi bagian luarnya.

Manfaat

Buah roda mempunyai kegunaan sebagai obat,di jawa buahnya yg sudah dibuat bubuk atau dilembutkan biasanya digunakan untuk mengobati puruh yang menahun. Di yogyakarta dan solo biji yang di bakar setengah matang di kupas atau di bentuk pil dicampur dengan madu sebagai bahan pencahar. Kegunaan lain di Hawai kayu buah roda digunakan sebagai bahan bangunan dan kotak kemasan. Kulit batang yang dimemarkan dan getah kayu digunakan sebagai racun ikan. Namun apabila keracunan getah ini digunakan susu dan gula yang dicucikan kemuka sebagai penawarnya.
10. Palem Putri

Veitchia merillii (Becc.) H. E. Moore. Nama umum
Indonesia:
Palem putri

Palem Putri
     
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
          
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
        
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
     
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
           
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
          
Sub Kelas: Arecidae
  
Ordo: Arecales
           
Famili: Arecaceae (suku pinang-pinangan)
    
Genus: Veitchia
         
Spesies: Veitchia merillii (Becc.) H. E. Moore.
          
Kerabat Dekat

Palem Pilifina
Sering berada di tepi � tepi jalan. Sekilas bentuknya seperti palem raja, daun yang lebih lebar dan warna lebih hijau. Tanaman berasal dari Madagaskar, banyak dimanfaatkan sebagai penghias pinggir jalan atau tanaman pot. Daun majemuk, dengan pertulangan helai daunnya lurus.   Bunga majemuk. Perakaran serabut. 

Nama latin : syzygium oleina 
Nama Lokal : pucuk merah
   
Famili : Myrtaceae
     
Perbanyakan : Stek batang
    
Perawatan : -pemotesan 2minggu sekali
       
-pemangkasan 2-3bln sekali
   
-pemupukan dengan NPK 2-3bln sekali
        
Media tanam : Tanah kompos dan sekam
     
Fungsi : * Border
       
* tanaman hias dalam pot
      
* focal point
   
* tanaman pengarah dan peneduh
    
Tinggi rata-rata : 50 cm – 2 m
           
Daya tarik : tunas muda berwarna orange dan merah
         
Keterangan : - memerlukan cahaya matahari penuh
- kebutuhan air sedang
- termasuk jenis tanaman ever green 
Pertama mendengar namanya, orang pasti akan mengira ini adalah tanaman jenis terbaru dari phillodendron atau anthurium, mengingat namanya yang seolah-olah merupakan nama yang tercipta dari tanaman hasil penyilangan. Pucuk merah yang keluar dari bonggol daun tanaman anthurium atau philodendron, alias daun muda yang berwarna menarik.         
Kenyataannya, si pucuk merah adalah tanaman perdu yang tidak sepopuler anthurium atau sejenisnya. Bentuk daunnya pun tidak sevariatif tanaman hias populer tadi. Warnanya hijau, bentuknya pun tidak terlalu istimewa, kecil dan memanjang, batangnya kecil, bentuknya sama seperti tanaman perdu pada umumnya .
Yang istimewa dari tanaman ini adalah ujung daun muda yang berwarna orange dan merah. Karenanya ia dinamakan ‘Pucuk merah’. Tunas mudanya yang membuatnya istimewa, sehingga tajuk tanaman ini terlihat merah secara keseluruhan. Tak heran tanaman ini menjadi tanaman peneduh favorit di Singapura dan Malaysia.
Marilah kita berkenalan dengan primadona baru tanaman hias ini,
nama latinnya adalah syzygium oleina, namun saat ini popular dengan nama pucuk merah. Tanaman ini masih termasuk dalam family yang sama dengan tanaman cengkeh, bentuk tajuk dan daunnya menyerupai tanaman cengkeh.
         
Tanaman yang merupakan kerabat dekat dengan tanaman jambu air ini memerlukan cahaya matahari yang cukup, sehingga tunas mudanya dapat tetap berwarna merah dan sangat mempesona dipandang mata. Adapun cara lain untuk mempertahankan keindahan pucuk merah ini adalah dengan cara dipotes dan dipangkas. Yang bertujuan agar tajuk pohon selalu terlihat merah dan menjaga bentuk tajuk tanaman.
Pemotesan dilakukan 2minggu sekalli. Caranya : pucuk-pucuk daun yang warnanya sudah mulai memudar atau tidak lagi berwarna merah karena menua segera dipetik menggunakan tangan. Yang perlu diperhatikan pemotesan dilakukan tepat pada ruas cabang, sehingga tunas baru dapat segera tumbuh dari ruas yang telah dipotes tersebut. Dan tajuk tanaman kembali terlihat merah.
Selain tunas baru yang selalu muncul, pertumbuhan tunas baru ini pun harus merata sehingga tidak terlihat hanya memerah pada satu sisi saja. Hal ini dapat dilakukan dengan merubah posisi tanaman, yaitu dengan cara memutar tanaman setiap 2 minggu sekali. Dengan demikian semua sisi tanaman dapat terkena sinar matahari secara merata. Kualitas sinar matahari yang terbaik adalah pada saat di pagi hari. Tentu saja hal ini dapat dilakukan dengan mudah apabila ditanam di media pot.
           
Perawatan tanaman ini juga ditentukan oleh pemangkasan yang dilakukan secara rutin. Bentuk tajuk yang rapi dan dipangkas menyerupai kerucut atau bola akan menambah indah tanaman ini. Pemangkasan dapat dilakukan 2-3bulan sekali, tapi apabila pertumbuhannya lebih cepat dari itu, pemangkasan harus segera dilakukan demi untuk mempertahankan bentuk tajuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan, dan tajuk juga akan tumbuh lebih rapat, tunas merah akan lebih banyak terlihat, sudah jelas tanaman akan lebih indah dipandang mata.
  
Perawatan lain yang tak kalah pentingnya adalah pemupukan, pemberian pupuk dilakukan 2-3 bulan sekali, dapat dilakukan bersamaan dengan pemangkasan.
Tunggu apalagi, segera hiasi taman anda dengan pucuk merah, sehingga memberikan warna tersendiri pada taman Anda.
 
Tips :
 
- Pucuk merah dapat ditanam sebagai border/pembatas ataupun jalur hijau, sebagai pengarah jalan dan peneduh.
       
- Dapat pula ditanam di pot, sebagai bagian dari potscape, dengan bentuk tajuk kerucut, diletakan sebagai back ground bagi tanaman berbunga dalam pot.
- Ditanam sebagai focal point dalam sebuah taman bertema tropis, sebagai pusat perhatian diletakkan di salah satu titik pandang dalam taman.
- Apabila tertarik untuk membeli tanaman ini, dapat dipilih yang sudah dibentuk kerucut dan banyak tunas mudanya, tinggi tidak lebih dari 1 m saja, sehingga akan terlihat lebih indah
. 



















BAB IV
PENUTUP

4.1  Simpulan
4.2  Saran


Laporan ini disusun oleh
1.      Jumianto
2.      Ismail
3.      Hilda Armaya
4.      Ilhammuddin
5.      Khairunnisa Yushardi

Jurusan Pendidikam Matematika Fakultas FKIP Uinversitas Islam Riau

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar