= SELAMAT DATANG DI BLOG ARTIKEL PENDIDIKAN BY JUMIANTO =

-== SELAMAT DATANG DI BLOG BERBAGI PENGETAHUAN OLEH JUMIANTO, S.Pd SEMOGA BERKAH DUNIA AKHIRAT= = -

Cari Blog Ini

Sabtu, 12 Februari 2011

Teori belajar Jerome S bruner

TEORI BELAJAR MENURUT JEROME BRUNER
Jerome Bruner secara ekstensif telah menulis tentang proses pemikiran manusia dan bagaimana cara pemikiran tersebut muncul – dan bagaimana cara yang seharusnya dialami oleh kemunculan tersebut – selama proses instruksi berjalan. Tulisan-tulisannya tentang dunia pendidikan menunjukkan kecendrungan filisofis Piaget dan merupakan harta karun yang penuh dengan gagasan.meskipun pembuktian eksperimental yang ada di masing-masing gagasan tidak memiliki tekanan yang cukup dibandingkan dengan yang biasa terjadi dalam dalam teori-teori kognitif lainnya.Teori belajar dari perkembangan psikologi pendidikan dengan tiga aliran (teori behavioristik, teori kognitif dan teori humanistik) yaitu: teori belajar dari psikologi behavioristik, yang berpendapat tingkah laku manusia dikendalikan ganjaran (reward) dan penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavior dengan slimulasi, teori belajar dari psikologi kognitif yang beranggapan bahwa tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi, jadi kaum kognitif berpandangan tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada pemahaman (insight) terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi, teori telajar dari psikologi humanistik menekankan pada bagaimana individu dipengaruhi dan dibimbing pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri atau dengan kata lain pandangan ini berusaha untuk memahami prilaku seseorang dari sudut perilaku( behaver). Bukan dari pengamat (observer).
Teori belajar Bruner dikenal dengan tiga tahapan belajarnya yaitu, enaktif, ikonik dan simbolik. Pada dasarnya setiap individu pada waktu mengalami atau mengenal peristiwa yang ada di dalam lingkungannya dapat menemukan cara untuk menyatakan kembali peristiwa tersebut di dalam pikirannya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa yang dialaminya.
A. Riwayat Singkat Jerome Bruner
Jerome Bruner lahir di New York tahun l915. Pada usia dua tahun ia menderita penyakit katarak dan harus dioperasi. Ayahnya meninggal ketika ia berusia 12 tahun yang menyebabkan ia harus pindah ke rumah familinya dan kerap kali putus sekolah dan pindah-pindah sekolah. Meskipun demikian prestasinya cukup baik ketika masuk Duke University Durham, New York City ia memperoleh gelar B.A pada tahun 1937 dan memperoleh Ph.D dari Harvard University tahun 1941. Bruner juga seorang profesor psikologi di Harvard University 1952-1972 dan di Oxford University 1972-1980. la menghabiskan waktunya di New York University School of Law dan New School For Social Research di New York City. Lebih 45 tahun Bruner menekuni psikologi kognitif sebagai suatu alternatif teori behavioristik dalam psikologi sejak pertengahan abad 20. Pendekatan kognitif Bruner menjadikan reformasi pendidikan di Amerika Serikat dan juga di Inggris. Selain sebagai psikolog, ia juga termasuk Dewan Penasehat Presiden bidang sains pada masa Pesiden Jhon F. Kennedy dan Jhonson serta banyak menerima penghargaan dan kehormatan termasuk International Baldan Prize, medali emas CIBA untuk riset dari Asosiasi Psikologi Amerika. Bruner juga seorang penulis produktif. Dantara karya tulisnya antara lain:
1. Acts of Meaning (Harvard University Press, l99l)
2. The Culture of Education (Harvard University press, 1996)
3. The Process of Education (Harvard University press. 1960)
4. Toward a Theory of Instruction (Harvard Univenity press, 1966)
5. Beyond the Information Given; Studies in the Psychology of Knowing (Norton, 1973)
6. Child’s Talk: Learning to Use Language (Norton, 1983)
7. Actual Minds, Possible Worlds (Harvard, University press, 1986)
Beliau bertugas sebagai profesor psikologi di Harvard University di Amerika Serikat dan dilantik sebagi pengarah di Pusat Pengajaran Kognitif dari tahun 1961 sehingga 1972, dan memainkan peranan penting dalam Structur Projek Madison di Amerika Serikat. Setelah itu, beliau menjadi seorang profesor Psikologi di Oxford University di Inggris.
Jerome Bruner adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif. Pendekatannya tentang psikologi adalah eklektik. Penelitiannya yang demikian banyak itu meliputi persepsi manusia, motivasi, belajar dan berfikir. Dalam mempelajarai manusia, ia menganggap manusia sebagai pemroses, pemikir dan pencipta informasi. Bruner menganggap, bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu memperoleh informasi baru, transformasi pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Pandangan terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental itu, didasarkan pada dua prinsip, yaitu pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model mengenai kenyataan yang dibangunnya, dan model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu.
Teori belajar kognitif berbeda dengan teori belajar behavioristik. Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya. Para penganut aliran kognitif mengatakan bahwa belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon. Tidak seperti model berajar behavioristik yang mempelajari proses belajar hanya sebagai hubungan stimulus-respon, model belajar kognitif merupakan suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.
Teori kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses interaksi yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks. Proses belajar terjadi antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki dan terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pemahaman dan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Bruner ternyata tidak mengambangkan suatu teori belajar yang sistematis. Yang penting baginya ialah cara-cara bagaimana orang memilih, mempertahankan dan mentransformasikan informasi secara aktif, dan inilah menurut bruner inti dari belajar. Oleh karena itu Bruner memusatkan perhatiannya pada masalah apa yang dilakukan manusia dengan informasi yang diterimanya, dan apa yang dilakukannya sesudah memperoleh informasi yang diskrit itu untuk mencapai pemahaman yang memberikan kemampuan padanya.
Jerome Bruner (1915), seorang ahli psikologi perkembangan dan ahli psikologi belajar kognitif, yang menjabat sebagai direktur pusat untuk studi kognitif di Harvard University. Teori Bruner tidak mengembangkan suatu teori bulat tentang belajar sebagaimana yang dilakukan oleh Robert M. Gagne. Refleksinya berkisar pada manusia pengolah aktif terhadap informasi yang diterimanya untuk memperoleh Pemahaman.
Yang menjadi ide dasar Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan secara aktif dalam belajar di kelas, untuk itu menurut Bruner, murid mengorganisir bahan yang dipelajari dalam suatu bentuk akhir. Teori ini disebutnya dengan discovery learning, atau dengan kata lain bagaimana cara orang memilih mempertahankan dan mentransformasikan informasi secara aktif, dan inilah menurut Bruner inti dari berajar. Menurut Bruner dalam proses belajar ada tiga tahap, yaitu:
1. Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru dimana dalam setiap pelajaran diperoleh sejumlah informasi yang berfungsi sebagai penambahan pengetahuan yang lama, memperluas dan memperdalam dan kemungkinan informasi yang baru bertentangan dengan informasi yang lama.
2. Tahap tansformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta ditransformasikan dalam bentuk yang baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, yaitu informasi harus dianalisis dan ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih abstrak atau konsetual agar dapat digunakan dalam hal lebih luas.
3. Tahap evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil transformasi pada tahap ke dua benar atau tidak. Evaluasi kemudian dinilai sehingga diketahui mana-mana pengetahuan yang diperoleh dan transformasi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Pendewasaan intelektual atau pertumbuhan kognitif seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidaktergantungan respons dari sifat stimulus. Pertumbuhan itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa-peristiwa menjadi suatu ”sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan. Pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya.
B. Ciri khas Teori Pembelajaran Menurut Bruner
1. Empat Tema tentang Pendidikan
1.
Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat, bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.
Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan keterampilan-keterampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.
Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupakan kesimpulan yang benar atau tidak.
Tema keempat adalah tentang motivasi atau keingianan untuk belajar dan cara-cara yang tersedia pada para guru untuk merangsang motivasi itu.
2. Model dan Kategori
Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi. Asumsi pertama adalah bahwa perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif. Berlawanan dengan penganut teori perilakau Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan tetapi juga dalam diri orang itu sendiri.
Asumsi kedua adalah bahwa orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya, suatu model alam (model of the world). Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Aussebel. Setiap model seseorang khas bagi dirinya. Dengan menghadapi berbagai aspek dari lingkungan kita, kita akan membentuk suatu struktur atau model yang mengizinkan kita untuk mengelompokkan hal-hal tertentu atau membangun suatu hubungan antara hal-hal yang diketahui.
Bruner menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut:
1. Perkembangan intelektul ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
2. Peningkatan pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara realis
3. Perkembangan intelekual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.
4. Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya
5. Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep ke pada oraag lain.
6. Perkembaagan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternatif secara simultan. memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi
3. Belajar sebagai Proses Kognitif
1.
Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Informasi baru merupakan penghalusan dari informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang atau informasi itu dapat bersifat sedemikian rupa sehingga berlawanan dengan informasi sebelumnya yang dimiliki seseorang. Dalam transformasi pengetahuan seseorang memperlakukan pengetahuan agar cocok dengan tugas baru. Jadi, transformasi menyangkut cara kita memperlakukan pengetahuan, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubah bentuk lain.
Hampir semua orang dewasa melalui penggunaan tiga sistem keterampilan untuk menyatakan kemampuannya secara sempurna. Ketiga sistem keterampilan itu adalah yang disebut tiga cara penyajian (modes of presentation) oleh Bruner. Ketiga cara itu ialah: cara enaktif, cara ikonik dan cara simbolik.
Kajian Bruner menekankan perkembangan kognitif. Ia menekankan cara-cara manusia berinteraksi dalam alam sekitar dan menggambarkan pengalaman secara mendalam. Menurut Bruner, perkembangan kognitif juga melalui tiga tahapan yang ditentukan cara melihat lingkungan, yaitu enaktif (0-2 tahun), ikonik (2-4 tahun), dan simbolik (5-7 tahun).
1. Tahap enaktif (0-2 tahun), seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya. Artinya dalam memahami dunia sekitarnya, anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan dan sebagainya.
2. Tahap ikonik (2-4 tahun), seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya, anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komperasi)
3. Tahap simbolik (5-7 tahun), seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak sistem simbol. Semakin matang seseorang dalam proses pemikirannya, semakin dominan sistem simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia tidak lagi sistem enaktif dan ikonik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran merupakan salah satu bukti masih diperlukannya sistem enaktif dan ekonik dalam proses belajar.
Cara penyajian enaktif ialah melalui tindakan, jadi bersifat manipulatif. Dengan cara ini seseorang mengetahui suatu aspek dari kenyataan tanpa menggunakan pikiran atau kata-kata. Jadi cara ini terdiri atas penyajian kejadian-kejadian yang lampau melalui respon-respon motorik. Misalnya seseorang anak yang enaktif mengetahui bagaimana mengendarai sepeda.
Cara penyajian ikonik didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan oleh sekumpulan gambar-gambar yang mewakili suatu konsep, tetapi tidak mendefinisikan sepenuhnya konsep itu. Misalnya sebuah segitiga tidak menyatakan konsep kesegitigaan.
Penyajian simbolik menggunakan kata-kata atau bahasa. Penyajian simbolik dibuktikan oleh kemampuan seseorang lebih memperhatikan proposisi atau pernyataan dari pada objek-objek, memberikan struktur hirarkis pada konsep-konsep dan memperhatikan kemungkinan-kemungkinan alternatif dalam suatu cara kombinatorial.
Sebagai contoh dari ketiga cara penyajian ini, tentang pelajaran penggunaan timbangan. Anak kecil hanya dapat bertindak berdasarkan ”prinsip-prinsip” timbangan dan menunjukkan hal itu dengan menaiki papan jungkat-jungkit. Ia tahu bahwa untuk dapat lebih jauh kebawah ia harus duduk lebih menjauhi pusat. Anak yang lebih tua dapat menyajikan timbangan pada dirinya sendiri dengan suatu model atau gambaran. ”Bayangan” timbangan itu dapat diperinci seperti yang terdapat dalam buku pelajaran. Akhirnya suatu timbangan dapat dijelaskan dengan menggunakan bahasa tanpa pertolongan gambar atau dapat juga dijelaskan secara matematik dengan menggunakan Hukum Newton tentang momen.
Belajar Penemuan
Salah satu model kognitif yang sangat berpengaruh adalah model dari Jerome Bruner yang dikenal dengan nama belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen-eksperimen yang mengizinkan mereka untuk menemukan konsep dan prinsip itu sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. Diantaranya adalah:
1. Pengetahuan itu bertahan lama atau lama dapat diingat.
2. Hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.
3. Secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berfikir secara bebas.
Asumsi umum tentang teori belajar kognitif: a. Bahwa pembelajaran baru berasal dari proses pembelajaran sebelumnya. b. Belajar melibatkan adanya proses informasi (active learning). c. Pemaknaan berdasarkan hubungan. d. Proses kegiatan belajar mengajar menitikberatkan pada hubungan dan strategi.
Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (Advance Organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Menurut Ausubel, konsep tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif peserta didik untuk pengalaman belajar. Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan. Bruner mengembangkan teorinya tentang perkembangan intelektual, yaitu: enactive, iconic, dan symbolic.
Sejalan dengan pernyataan di atas, maka untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya.
Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan (discovery learning).
Bruner mempreskripsikan pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar siswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan yang khas baginya. Sedangkan Ausubel mempreskripsikan agar siswa dapat mengembangkan stuasi belajar, memilih dan menstrukturkan isi, serta menginformasikannya dalam bentuk sajian pembelajaran yang terorganisasi dari umum menuju kepada yang rinci dalam satu satuan bahasan yang bermakna.
Teori pembelajaran Burner mementingkan pembelajaran melalui penemuan bebas (Free discovery learning) atau penemuan yang dibimbing, atau latihan penemuan. Bruner mementingkan aspek-aspek berikut dalam teori pembelajarannya yaitu; cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitar dan pengalamannya, perkembangan mental manusia dan pemikiran semasa proses pembelajaran, pemikiran secara logika, penggunaan istilah untuk memahami susunan struktur pengetahuan, pemikiran analisis dan intuitif, pembelajaran induktif untuk menguasai konsep/kategori, dan pemikiran metakognitif. Teori-teori tersebut dapat diaplikasikan dalam 10 cara sebagai berikut:
1. Pembelajaran penemuan
2. Pembelajaran melalui metode induktif
3. Memberi contoh-contoh yarg berkaitan dan tidak berkaitan dengan konsep
4. Membantu siswa melihat hubungan antar konsep
5. Membiasakan siswa membuat pemikiran intuitif
6. Melibatkan siswa
7. Pengajaran untuk pelajar tahap rendah
8. Menggunakan alat bantu mengajar
9. Pembelajaran melalui kajian luar
10. Mengajar mengikuti kemampuan siswa
Teori Bruner mempunyai ciri khas dari pada teori belajar yang lain yaitu tentang ”discovery”, yaitu belajar dengan menemukan konsep sendiri. Disamping itu, karena teori Bruner ini banyak menuntut pengulangan-penulangan, maka desain yang berulang-ulang itu disebut ”kurikulum spiral kurikulum”. Secara singkat, kurikulum spiral menuntut guru untuk memberi materi pelajaran setahap demi setahap dari yang sederhana ke yang kompleks, dimana materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi di dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya sehingga siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.
Bruner berpendapat bahwa seseorang murid belajar dengan cara menemui struktur konsep-konsep yang dipelajari. Anak-anak membentuk konsep dengan melihat benda-benda berdasarkan ciri-ciri persamaan dan perbedaan. Selain itu, pembelajaran didasarkan kepada merangsang siswa menemukan konsep yang baru dengan menghubungkan kepada konsep yang lama melalui pembelajaran penemuan
Langkah-langkah discovery learning
1. Siswa dihadapkan pada problem-problem yang menimbulkan suatu perasaan gagal di dalam dirinya lni dimulai proses inquiry
2. Siswa mulai menyelidiki problem itu secara individual
3. Siswa berusaha memecahkan problem dengan menggunakan pengetahuan yang sebelumnya
4. Siswa menunjukkan pengertian dari generalisasi itu
5. Siswa menyatakan konsepnya atau prinsip-prinsip dimana generalilisasi itu didasarkan.
C. Penerapan Teori Kognitif Bruner dalam Dunia Pendidikan
Pada bagian ini akan dibahas bagaimana menerapkan belajar penemuan pada siswa, ditinjau dari segi metode, tujuan serta peranan guru khususnya dalam dunia pendidikan.
1. Metode dan Tujuan
Dalam belajar penemuan, metode dan tujuan tidak sepenuhnya beriring. Tujuan belajar bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan saja. Tujuan belajar sepenuhnya ialah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat melatih kemampuan intelektual siswa dan merangsang keingintahuan mereka dan memotivasi kemampuan mereka. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengetahuan melalui belajar penemuan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bruner dalam bukunya Toward a Theory of Instruction yang diambil dari buku Teori-Teori Belajar tulisan Ratna Wilis Dahar, Bruner mengatakan:
We teach a subject not to produce litle living libraries on the subject, but rather to get a student to think mathematically for him self, to consider matters as an historian does, to take part in the process of knowledge-getting. Knowing is a process, not aproduct.
Jadi kalau kita mengajar sains misalnya, kita bukan akan menghasilkan perpustakaan-perpustakaan hidup kecil tentang sains, melainkan kita ingin membuat anak-anak kita berfikir secara matematis bagi dirinya sendiri, berperan serta dalam proses perolehan pengetahuan. Mengetahui itu adalah suatu proses, bukan suatu produk.
2. Peranan Guru
Langkah guru sebagai fasilitator pembelajaran dalam belajar penemuan adalah:
1. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
2. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Guru hendaknya memulai dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Kemudian guru mengemukakan sesuatau yang berlawanan. Dengan demikian terjadi konflik dengan pengalaman siswa. Akibatnya timbulah masalah. Dalam keadaan yang ideal, hal yang berlawanan itu menimbulkan suatu kesangsian yang merangsang para siswa untuk menyelidiki masalah itu, menyusun hipotesis-hipotesis dan mencoba menemukan konsep atau prinsip yang mendasari masalah itu.
3. Guru harus menyajikan dengan cara enaktif, ikonik dan simbolik. Enaktif adalah melaui tindakan atau dengan kata lain belajar sambil melakukan (learning by doing). Ikonik adalah didasarkan atas pikiran internal. Pengetahuan disajikan melalui gambar-gambar yang mewakili suatu konsep. Simbolik adalah menggunakan kata-kata atau bahasa-bahasa.
4. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebih dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi hendaknya memberikan saran-saran bila diperlukan. Sebagai seorang tutor, guru hendaknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat.
5. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis besar belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-generalisasi dengan menemukan sendiri konsep-konsep itu. Di lapangan, penilaian hasil belajar penemuan meliputi pemahaman tentang konsep dasar, dan kemampuan untuk menerapkan konsep itu ke dalam situsi baru dan situasi kehidupan nyata sehari-hari pada siswa.
Jadi dalam belajar penemuan, guru tidak begitu mengendalikan proses pembelajaran. Guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah. Penilaian hasil belajar meliputi tentang konsep dasar dan penerapannya pada situasi yang baru.
3. Langkah-langkah pembelajaran discovery learning menurut Bruner
Bruner mengajukan beberapa langkah-langkah pembelajaran, yaitu:
1. Menentukan tujuan pembelajaran
2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar dan sebagainya)
3. Memilih materi pelajaran
4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh kegeneralisasi)
5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa
6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang konkrit kepada yang abstrak, atau dari tahap enaktik, ikonik sampai kepada tahap simbolik melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
Dasamping itu ada beberapa saran-saran tambahan yang berdasarkan pendekatan discovery learning terhadap pengajaran.
1. Mendorong memberikan “dugaan sementara” dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
2. Menggunakan berbagai alat peraga dan permainan
3. Guru harus mendorong siswa untuk memuaskan keingintahuan jika mereka ingin mengembangkan pikirannya atau ide-ide yang kadang-kadang tidak langsung berhubungan dengan mata pelajaran
4. Gunakan sejumlah contoh yang belawanan dengan mata pelajaran yang berhubungan dengan topik.
5. D. Keistimewaan dan Kelemahan Discovery Learning
Dalam setiap teori pastilah ada keistimeaan dan kelemahan. Begitu juga halnya dengan teori discovery learning yang cetuskan oleh Jerome Bruner. Ada beberapa keistimewaan discovery learning itu, antara lain:
& Discovery learning menimbulkan keingintahuan siswa, dapat memotivasi mereka untuk melanjutkan pekerjaan sampai mereka menemukan jawaban-jawaban.
& Pendekatan ini dapat mengajar keterampilan menyelesaikan masalah secara mandiri dan mungkin memaksa siswa untuk menganalisis dan memanipulasi informasi dan tidak hanya menyerap secara sederhana saja
• Hasilnya lebih berakar dari pada cara belajar yang lain.
• Lebih mudah dan cepat ditangkap
• Dapat dimanfaatkan dalam bidang sudi lain atau dalam kehidupan sehari-hari
• berdaya guna untuk meningkatkan kemampuan siswa menalar dengan baik
Sedangkan kelemahan teori Discovey Learning Jerome Bruner antara lain:
• Belajar discovery learning belum tentu bisa diaplikasikan karena kondisi dan sistem yang belum mendukuag penemuan sendiri, sementara secara realistis murid didominasi hanya menerima dari guru
• Discovery learning belum tentu semua murid mahir untuk menerapkannya
• Discavery learning berbahaya bagi murid yang kurang mahir, sebab pengetahuan yang ia peroleh tidak akan menambah pengetahuan yang sempurna tapi baru sebatas coba-coba.
Kesimpulan
Dalam usaha meningkatkan pendidikan pada umumnya Bruner mengemukakan empat tema, yaitu; struktur, kesiapan, intuisi dan motivasi. Bruner menganggap bahwa belajar itu meliputi tiga proses kognitif, yaitu; memperoleh informasi baru, transformasi ilmu pengetahuan, dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Pandangannya terhadap belajar yang disebutnya sebagai konseptualisme instrumental didasarkan pada dua prinsip, yaitu; pengetahuan orang tentang alam didasarkan pada model-model menganai kenyataan yang dibangunnya, dan model-model itu mula-mula diadopsi dari kebudayaan seseorang, dan kemudian model-model itu diadaptasikan pada kegunaan bagi orang itu.
Pematangan intelektual seseorang ditunjukkan oleh bertambahnya ketidakbergantungan respon dari sifat stimulus. Pertumbuhan itu tergantung pada bagaimana seseorang menginternalisasi peristiwa- peristiwa menjadi suatu “sistem simpanan” yang sesuai dengan lingkungan.pertumbuhan itu menyangkut peningkatan kemampuan seseorang untuk mengemukakan pada dirinya sendiri atau pada orang lain tentang apa yang telah atau akan dilakukannya.
Penyajian kemampuan dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu; cara enaktif, ekonik, dan cara simbolik. Menurut Bruner belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan (discovery learning). Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan bertahan lama, dan mempunyai efek transfer yang lebih baik. Belajar penemuan meningkatkan penalaran dan kemampuan dan berfikir secara bebas, dan memilih keterampilan-keterampilan kognitif untuk menemukan dan memecahkan masalah.
Saran-saran
Sebagai seorang guru ada baiknya menggunakan metode yang variatif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Diantaranya dengan menggunakan teori belajar kognitif Bruner dengan pendekatan discovery learning.
Dalam menerapkan belajar penemuan, tujuan-tujuan mengajar hendaknya dirumuskan secara garis besar dan cara-cara yang digunakan para siswa untuk mencapai tujuan tidak perlu sama. Dalam belajar penemuan guru tidak begitu mengendalikan proses belajar-mengajar.guru hendaknya mengarahkan pelajaran pada penemuan dan pemecahan masalah selain itu guru diminta pula untuk memperhatikan tiga cara penyajian, yaitu penyajian enaktif, ekonik, dan simbolik. Semoga Bermanfaat….. JJJ
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu., dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 1991
Bell Gredler, Margareth E., Belajar dan Membelajarkan. terj. Munandir. Jakarta: Rajawali. 1991
Budiningsih, Asri., Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2005
Nasution, S., Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. 1995
Seifert, Kelvin., Manajemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan (Manajemen Mutu Psikologi Pendidikan Para Pendidik). terj. Yusuf Anas. Jogjakarta: IRCiSod. 2008
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 1995
Soemanto, Wasti., Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 1998
Sudjana, Nana., Teori-teori Belajar untuk Pengajaran. Jakarta: LP. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1991
Uno, Hamzah B., Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara. 2008
Wilis Dahar, Ratna., Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga. 1989
Winkel, W.S., Psikologi Pengajaran. Jakarta: Media Abadi. 2005

Teori belajar

Tugas Makalah : Belajar & Pembelajaran Matematika
Dosen Pembimbing ;Drs.H.Basri ,M.Pd

Belajar & Pembelajaran Matematika
Kegiatan Instruksional





Disusun oleh:
Kelompok 1
1. Rita Yuliani
2. Livna Yulvia
3. Marta Trionia
4. Silvi Yanti
5. Jumianto
6. Mohd. Sarmidi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Jurusan Matematika Strata S1
Universitas Islam Riau
2011


BAB I
PENDAHULUAN
Bila kita ingat sejenak pengalaman kita sejak menjadi murid sekolah dasar,siswa sekolsah menengah sampai menjadi mahasiswa diperguruan tinggi akan dapat diindenfikasikan berbagai jenis pengajaran yang telah digunakan oleh para guru kita.stiap pengajar,baik yang membuat persiapan maupun tidak,,slalu mencari cara untuk melaksanakan kegiatan intruksionalnya sebaik-baiknya.demikian pula setiap pengelolah program pendidikan dan latihan senantiasa mencari jalan meningkatkan kualitas programnya melalui cara-cara yang dikenalnya atau dianggapnya baik.
Tujuan instruksional umum:
1.memilih model pengembangan instruksional yang sesuai dengan kondisi belajar.
2.mengidenfikasikan kebutuhan instruksional.
3.menulis tujuan instruksional umum.
4.melakukan analisis instruksional.
5.mengidenfikasikan perilaku dan karakateristik awal mahasiswa.
6.merumuskan tujuan instruksional khusus .
7.menyusun tes acuan patokan.
8.mengembangkan strategi instruksional.
9.mengembangkan bahan instruksional.
10.mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.

Dalam jangka yang lebih panjang,sebagai pengajar anda diharapan dapat mengajar lebih baik sehingga prestasi belajar mahasiswa anda labih tinggi. Bila kegiatan instruksional yang anda lakukan atau kelola lebih sistematis,proses untuk memperbaikan dan meningkatkan kualitasnya akan lebih jelas.


BAB II
PEMBAHASAN
A.Kegiatan Instruksional Sebagai Suatu Sistem
Sistem secara umum berarti benda,peristiwa,kejadian atau cara yang terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil dan seluruh bagian tersebut secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu. defenisi ini menunjukan bahwa suatu benda atau peristiwa baru disebut sistem.bola memenuhi empat kriteria secara serentak,yaitu Pertama dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.Kedua,setiap bagian tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Ketiga, seluruh bagian itu melakukan fungsi secara bersama. Keempat fungsi bersama yang dilakukannya mempunyai suatu tujuan tersebut.
Dari konsep sistem berkembang beberapa terminologi yang berkaitan,yaitu pandangan sistem(system view), pendekatan sistem(sistem approach), analisis sistem(system analysis),sintesa system(system synthesis). pandangan sistem adalah kebiasaan memandang benda atau peristiwa dalam hidup sebagai suatu system.bila pandangan sistem ini diterapkan dalam pemecahan masalah ,proses pemecahan masalah ini disebut pendekatan sistem dalam proses tersebut terlibat kegiatan memecah suatu sistem menjadi beberapa subsistem dan mengidentifikasi hubungan dari setiap subsistem dengan subsistem lain.kegiatan seperti ini disebut analisis sistem. Dengan analisis sistem kita tidak saja dapat mengidefikasi funsi masing-masing serta kaitan fungsi subsistem yang satu dengan yang lain dalam menjalankan fungsi bersama. Dengan analisis sistem dapat pula diidentifikasi subsistem.
Filbeck menggambarkan dalam bentuk bagan kaitan antara konsep sistem, pandangan sistem, pendekatan sistem, analisis sistem, dan sintesis system.
Gagne (1979) mengatakan bahwa sistem instruksional adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi mahasiswa sehingga terjadi proses belajar.
Penerapan pendekatan sistem dalam dunia pendidikan dapat diarahkan kepada berbagai tujuan tergantung kepada masalah yang akan dipecahkan. Hasil penerapan pendekatan sistem itu dapat berupa pelayanan administrasi, registrasi, atau pengadaan bahan komputer. Untuk kegiatan intruksional, hasil pendekatan sistem terarah kepada peningkatan kualitas belajar mahasiswa.
Tahap mengidefikasi yang terdapat dalam bagan sederhana telah diuraikan menjadi tiga langkah sebagai berikut :
1. Mengedifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan intruksional umum.
2. Melakukan analisis intruksional.
3. Mengedifikasi perilaku dan karakteristik awal mahasiswa.
Tahap mengembangkan telah diuraikan menjadi empat langkah sebagai berikut:
4. Menulis tujuan instuksional khusus
5. Menulis tes acuan patokan
6. Menyusun srategi instruksional
7. Mengembangkan bahan instruksional
Tahap mengevaluasi dan merevisi dinyatakan sebagai berikut:
8. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif yang termasuk didalamnyaa kegiatan merevisi.
Hasil akhir dari kedelapan langkah tersebut adalah sistem instruksional yang siap pakai.
Prinsip-prinsip instruksional
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan instruksional dapat dikelompokkan menjadi dua belas macam (filbeck, 1974). Prinsip dan implikasi ini kemudian diterapkan dalam proses pengembangan instruksional.
Prinsip pertama
Respon-respon baru diulang sebagai akibat dari respon tersebut.
Implikasi prinsip pertama ini kepada kegiatan instruksional antara lain adalah:
1. Perlunya pemberian umpan balik positif dengan segera atas keberhasilan atas keberhasilan atau respon yang benar dari mahasiswa. Pada babak permulaan umpan balik yang menyenangkan tersebut harus seringkali diberikan, tetapi tahap berikutnya dapat diberikan lebih jarang secara random.
2. Mahasiswa harus aktif membuat respon, bukan duduk diam dan mendengarkan saja. Akibat yang menyenangkan atau yang kurang menyenangkan hanya diberikan bila mahasiswa aktif membuat respon.
Prinsip kedua
Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga dibawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda yang terdapat dalam lingkungan mahasiswa
Implikasi prinsip kedua ini pada teknologi intruksional adalah perlunya menyatakan tujuan instruksional secara jelas kepada mahasiswa sebelum pelajaran dimulai agar mahasiswa bersedia belajar lebih giat.
Agar tujuan instruksional tersebut jelas bagi mahasiswa, maka teknik perumusannya menggunakan kata kerja yang operasional yaitu perilaku mahasiswa yang tampak oleh mata dan dapat diukur.
Disamping itu implikasi prinsip kedua ini pada teknologi instruksional adalah pengunaan berbagai metode dan media agar dapat mendorong keaktifan mahasiswa dalam proses belajarnya.
Prinsip ketiga
Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang dan berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan pemberian akibat menyenangkan.
Implikasi prinsip ketiga ini terhadap teknologi instruksional adalah pemberian isi pelajaran yang berguna pada mahasiswa didunia luar ruangan kelas dan memberikan umpan balik berupa imbalan dan penghargaan terhadap keberhasilan mahasiswa
Prinsip keempat
Belajaran yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas pula.
Implikasi prinsip keempat ini kepada teknologi instruksionalkan adalah pemberian kegiatan belajar kepada mahasiswa yang nelibatkan tanda-tanda atau kondisi yang mirip dengan kondisi dunia nyata, yaitu lingkungan hidup mahasiswa diluar ruangan kelas.
Prinsip kelima
Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk sesuatu yang kompleks seperti pemecahan masalah.
Pengembangan instruksional perlu digunakan secara luas bukan saja contoh-contoh yang positif,melainkan juga yang negatife.
Prinsip keenam
Status mental untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan mahasiswa selam proses belajar.
Implikasi prinsip keenam ini dalam teknologi instruksional adalah pentingnya menarik perhatian mahasiswa untuk mempelajari isi pelajaran
Prinsip ketujuh
Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik untuk penyelesaian setiap langkah dan membantu sebagian besar mahasiswa.
Impikasi dalam teknologi instruksional adalah:
1.pengunaan buku teks terprogram (programmed texts atau programmed instructionans)
2. pengajarn harus menganalisis pengalaan belajarb mahasiswa menjadi kegiatan-kegiatan kecil dan kegiatan kecil dan setiap kegiatan kecil tersebut disertai latihan dan umpan balik terhadap hasilnya.
Prinsip kedelapan
Kebutuhan memecahkan materi belajar yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil akan dapat dikurangi bila materi belajar yang kompleks itu dapat diwujudkan dalam suatu model.
Implikasinya dalam teknologi instryksional adalah penggunaan media dan metode instruksional yang dapat menggambarkan materi yang kompleks kepada mahasiswa seperti model,realia,film,program televisi,program video,drama demonstrasi.
Prinsip kesembilan
Ketrampilan tingkat tinggi seperti ketrampilan memecahkan masalah adalah perilaku kompleks yanag berbentuk dari komposisi ketrampilan dasar yang lebih sederhana.
Impikasinya dalam teknologi instruksional adalah:
1.tujuan instruksional umum harus dirumuskan dalam bentuk hasil belajar yang operasional agar dapat dianalisis menjadi tujuan-tujuan yang lebih khusus.
2.demonstrasi atau model yang digunakan harus didesain sejalan dengan hasil analisis tersebut diatas agar dapat menggambarkan secara jelas komponen-komponen yang termasuk dalam perilaku yang kompleks tersebut.
Prinsip kesepuluh
Belajar cenderung menjadi cepat dan efesien serta menyenagkan bila mahasiswa diberi informasi bahwa ia menjadi mampu dalam keterampilan memecahkan masalah
Impllikasinya dalam teknologi instruksional adalah
1. Urutan pelajaran harus dimulai dari yang sederahana dan secara bertahap menuju kepada lebih komplek keberasilan mahasiswa dalam pelajaran yang lalu (yang lebih sederhana) dapat mendorongnya lebih kuat untuk menguasai pelajaran yang akan datang ( yang lebih komplek)
2. Kemajuan mahasiswa dalam menyelesaikan pelajaran harus di informasikan kepadanya agar keyakina kepada kemampuan dirinya lebih besar untukmemecahkan maslah yang lebih komlek pada yang akan datang.
Prinsip kesebelas
Perkembangan dan kecepatan belajaran mahasiswa bervariasi,ada yang maju dengan cepat, ada yang lebih lambat.
Implikasi prinsip ini terhadap teknologi instruksional adalah
1. Pentingnya penguasaan mahasiswa dalam materi pelajaran prsarat sebelum mempelajari materi pelajaran selanjutnya. Pengunaan cara belajar tuntas (materi learning) sangat penting bagi materi pelajaran terutama yang tersusun secara hirarkikal.
2. Mahasiswa mendapat kesempatan maju menurut kecepatan masing-masing.
Prinsip kedua belas
Dengan persiapan, mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan menggorganisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar.
Implikasinya dalam teknologi intruksional adalah pemberian kemungkinan bagi mahasiswa untuk memilih waktu, cara, dan sumber-sumber lain, disamping yang telah ditetapkan dalam system instruksional agar dapat membuat dirinya mecapai tujuan instruksional.
Dalam waktu 20 tahun terakhir ini teknologi instruksionalyang berkembang dengan pesat dengan mengambil 4 ciri utama, yaitu
1. Menerapkan penddekatan system
2. Mengunakan sumber belajar seluas mungkin
3. Bertujuan meningkatkan kualitas belajar manusia
4. Berorientasi kepada kegiatan instruksional individual
Focus dan teknologi instruksional bukan pada proses psikologi bagaimana mahasiswa belajar, melainkan pada proses bagaimana teknologi dan perangkat lunak dan keras digunakan mengkomunikasikan pengetahuan, keterampilan, atau sikap kepada mahasiswa sehingga mahasiswa mengalami perubahan prilaku yang diharapkan.

SIMPULAN Dan SARAN

Simpulan;
Kegiatan Instruksional Sebagai Suatu Sistem bahwa suatu benda atau peristiwa baru disebut sistem.bola memenuhi empat kriteria secara serentak,yaitu Pertama dapat dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.Kedua,setiap bagian tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Ketiga, seluruh bagian itu melakukan fungsi secara bersama. Keempat fungsi bersama yang dilakukannya mempunyai suatu tujuan tersebut.
Prinsip-prinsip yang digunakan dalam pengembangan instruksional dapat dikelompokkan menjadi dua belas macam (filbeck, 1974). Prinsip dan implikasi ini kemudian diterapkan dalam proses pengembangan instruksional.


Saran;
Setelah mngetahui bahwa kegiatan instruksional adalah system.dan memahami prinsip-prinsip instruksional maka diharapkan mampu mencapai peningkatan kualitas program belajar melalui cara-cara yang dikenalnya atau dianggap baik.






DAFTAR PUSTAKA
. Filbeck,R (1974). System in Teaching and Learning. Lincoln;Professional Educator Publication.
. Twelker, P. A. Urbach,Floyd d & Buck,J.E.(1972).The Systematic Development of Instruction.Stanford; ERIC Clearinghouse on Media and Technology.
. Gagne,R.M & Briggs L.J (1979).Principles of Instruction Design (2nd ed)New York:Hold,Rinehart and Winston.
. http//www.google.com







Bab I: PENDAHULUAN
Latar Belakang
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), model ini adalah suatu sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara itu, fungsi model ini adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.
Langkah-langkah dari pelaksanaan model ini adalah:
Merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran khusus yang berupa
rumusan yang jelas dan operasional mengenai kemampuan atau kompetemsi yang
diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.
Mengembangkan alat evaluasi, yaitu tes yang dilakukan yang fungsinya untuk menilai
sejauh mana kemampuan siswa, pada model PPSI evaluasi dilakukan saat tujuan
pembelajaran khusus telah ditetapkan.
Menentukan kegiatan belajar mengajar, yaitu kegiatan yang akan dilakukan agar tujuan
yang diinginkan tercapai, setelah kegiatan ditetapkan perlu dirumuskan pokok-pokok
mteri yang akan diberikan, sesuai dengan kegiatan yang telah ditetapkan.
Merencanakan program kegiatan belajar mengajar, titik tolaknya adalah suatu pelajaran
yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam/SKS-nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pendekatan dan metode harus sesuai tujuan dan materi yang telah ditetapkan, termasuk pelaksanaan evaluasi.
Pelaksanaan, langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah mengadakan Pre-
Test (tes awal), menyampaikan materi pelajaran, mengadakan Pos-Test (test akhir).
Tujuan
Membahas bagaimana prosedur pengembangan system instruksional (PPSI)
Menyusun contoh PPSI
Mempelajari salah satu model Dick dan Carrey untuk perancangan system instruksional
Manfaat
Dapat menjelaskan bagaimana prosedur pengembangan system instruksional (PPSI)
Dapat menyusun PPSI
Dapat menyusun perancangan system instruksional menurut model Dick dan Carrey
Bab II: PEMBAHASAN
Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI)
A. Definisi
PPSI adalah sistem yang saling berkaitan dari satu instruksi yang terdiri atas urutan, desain tugas yang progresif bagi individu dalam belajar (Hamzah B.Uno, 2007). Oemar Hamalik (2006) mendefinisikan PPSI sebagai pedoman yang disusun oleh guru dan berguna untuk menyusun satuan pelajaran.
B. Komponen
Komponen-komponen yang terdapat dalam PSSI adalah sebagai berikut.
1. Pedoman perumusan tujuan
Pedoman perumusan tujuan memberikan petunjuk bagi guru dalam merumuskan tujuan-tujuan khusus. Perumusan tujuan khusus itu berdasarkan pada pendalaman dan analisis terhadap pokok- pokok bahasan/ subpokok bahasan yang telah digariskan untuk mencapai tujuan instruksional dan tujuan kurikuler dalam GBPP.
Seluruh usaha pendidikan masyarakat Indonesia berkaitan dengan jenis dan jenjang pendidikan formal, apa yang akan dicapai lewat bidang studi tertentu, apa yang akan dicapai dalam pembahasan tertentu, apa yang akan dicapai dalam pembahasan topik pelajaran atau satuan bahasan tertentu.
2. Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian
Pedoman prosedur pengembangan alat penilaian memberikan petunjuk tentang prosedur penilaian yang akan ditempuh, tentang tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), tentang jenis tes yang akan digunakan dan tentang rumusan soal-soal tes sebagai bagian dari satuan pelajaran. Tes yang digunakan dalam PPSI disebut criterion referenced test yaitu tes yang digunakan unuk mengukur efektifitas program/pelaksanaan pengajaran.
3. Pedoman proses kegiatan belajar siswa
Pedoman proses kegiatan belajar siswa merupakan petunjuk bagi guru untuk menetapkan langkah-langkah kegiatan belajar siswa sesuai dengan bahan pelajaran yang harus dikuasai dan tujuan khusus instruksional yang harus dicapai oleh para siswa.
Dalam menentukan metode atau alat bantu pengajaran yang akan dipakai untuk mencapai tujuan
(TIK), para guru dan calon guru dituntut:
a.Menyadari bahwa TIK dan sifat bahan adalah dasar untuk menentukan metode dan alat
bantu pengajaran.
b.Guru menguasai berbagai metode secara fungsional misalnya metode ceramah, diskusi,
dll.
c. Mempertimbangkan fasilitas yang ada.
d. Setiap pelaksanaan metode pengajaran harus mempertimbangkan kondisi situasi murid
dan berusaha untuk aktivitas belajarnya.
e.Apakah guru tersebut benar-benar mampu melaksanakan metode beserta alat bantu
pengajaran yang dipilihnya.
4. Pedoman program kegiatan guru
Pedoman program kegiatan guru merupakan petunjuk-petunjuk bagi guru untuk merencanakan program kegiatan bimbingan sehingga para siswa melakukan kegiatan sesuai dengan rumusan TIK. Dalam hubungan ini guru perlu:
a. Merumuskan materi pelajaran secara terperinci
Hal ini dimaksudkan agar guru mampu menjabarkan materi pelajaran secara:
1. jelas kegunaannya untuk mencapai TIK;
2. sesuai dengan pengalaman murid;
3. terjamin kebenaran ilmiahnya;
4. mampu mengikuti perkembangan ilmu tersebut;
5. representatif
6.dan berguna bagi kehidupan murid sehari-hari.
a. Memilih metode-metode yang tepat
Guru menentukan lamanya waktu pelajaran berdasarkan keberagaman isi TIK dan tingkat kesukaran materi pelajaran. Guru juga dituntut untuk mempertimbangkan jenis metode serta alat bantu pengajaran yang dipilih.
b. Menyusun jadwal secara terperinci.
Sebelum melangkah ke pelaksanaan, satuan pelajaran sebagai persiapan tulis lengkap harus telah
selesai disusun.
5. Pedoman pelaksanaan program
Pedoman pelaksanaan program merupakan petunjuk-petunjuk dari program yang telah disusun. Petunjuk-petunjuk itu berkenaan dengan dimulainya pelaksanaan tes awal dilanjutkan dengan penyampaian materi pelajaran sampai pada dilaksanakannya penilaian hasil belajar.
Langkah ini terdiri dari 3 macam kegiatan, ialah:
a.Mengadakan pre-test
Tes yang kita berikan pada siswa adalah tes yang disusun pada langkah kedua. Fungsi dari pre- test ini untuk menilai sampai di mana siswa telah menguasai keterampilan yang tercantum dalam TIK.
b. Penyampaian materi pelajaran
Guru menyampaikan materi pelajaran kepada murid/guru membimbing murid untuk mendalami
dan mengusai materi pelajaran.
c. Mengadakan evaluasi
Post-test yang telah disusun pada langkah kedua diberikan pada murid-murid setelah mereka
mengikuti program pelajaran.
• Pre-test
Bertujuan untuk menilai kemampuan murid yang tercantum dalam TIK. Sebelum mereka mengikuti program pengajaran (secara praktis pre-test untuk menilai kemampuan murid mengenai penguasaan materi palajaran sebelum mereka dibimbing guru menguasai materi pelajaran yang telah diprogramkan).
• Post-test
Berfungsi untuk menilai kemampuan-kemampuan murid setelah pengajaran diberikan. Post-
test digunakan untuk menilai efektifitas pengajaran.
6.Pedoman Perbaikan atau Revisi
Pedoman perbaikan atau revisi yang merupakan pengembangan program setelah selesai dilaksanakan. Perbaikan dilakukan berdasarkan umpan balik yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian akhir.


Kamis, 03 Februari 2011

RPP


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Nama Sekolah             : SMP KUDU PINTER
Mata Pelajaran             : MATEMATIKA
Kelas/Semester                        : VIII(Delapan)/I(satu)
Pertemuan ke               : 3(tiga)
Alokasi Waktu             : 2 x 40 Menit

Standar  Kompetensi: Memahami bentuk aljabar,relasi,fungsi dan persamaan garis lurus
Kompetensi Dasar     : 1.4 Menentukan Nilai Fungsi
Indikator                    : Menentukan fungsi yang merupakan korespondensi satu-satu
A.       Tujuan Pembelajaran
·      Siswa dapat menentukan fungsi yang merupakan korespondensi satu-satu
B.       Materi Ajar

“Korespondensi satu-satu”

Himpunan A dikatakan berkorespondensi satu-satu dengan himpunan B jika setiap anggota A dipasangkan dengan tepat satu anggota B, dan setiap anggota B dipasangkan dengan tepat satu anggota A, dengan demikian banyak anggota himpunan A dan B haruslah sama.
Contoh :
Ø  Tentukan korespondensi satu-satu dengan diagram panah terhadap ibukota provinsi yang sesuai….
Dengan data sebagai berikut :
Provinsi           : {JAMBI,NAD,RIAU,SUMBAR,SUMUT}
Oval: Banda Aceh
Medan
Pekanbaru
Padang
JambiIbu Kota          : {Banda Aceh, Jambi,Pekanbaru,Medan,Padang}


 






                                                                                                   

C.       Pendekatan dan Metode Pembelajaran

Ø  Pendekatan Pembelajaran   : Contextual Teaching Learning(CTL)
Ø  Metode Pembelajaran           : Ceramah,Diskusi,Tanya jawab,Pemberian Tugas(LKS)

D.       Penerapan Pendekatan CTL
Komponen Pembelajaran CTL
Kegiatan Guru

Kegiatan Siswa
Waktu

Kegiatan awal      :



v Apersepsi dengan mengingat kembali materi yang lalu yaitu tentang fungsi(pemetaan)
v Menyampaikan materi apa yang akan diajarkan pada hari ini yaitu tentang  korespondensi satu-satu
v Menyebutkan Materi sebelumnya


v Mendengar dan Menyimak


10 Menit

Kegiatan inti :


Ø Kontruktivisme


















Ø Inkuiri




Ø Bertanya





Ø Masyarakat Belajar







Ø Pemodelan




Ø Refleksi








Ø Penilaian Nyata
v Guru memberikan contoh tentang korespondensi satu-satu(kita misalkan contoh yang dekat dengan pengalaman siswa missal : anak-anak siapa yang tahu hal apa yang berkaitan dengan korespondensi satu-satu ? tentu dalam hal ini anak ada yang menjawab namun ada pula yang belum tahu, maka dalam hal ini guru mengambil contoh missal pasangan hidup ayah dodo, nani, indah dan boni tentu siswa lalu berfikir dan lalu guru menjelaskan bahwa jika ayah dodo berpasangan dengan ibunya, begitu pula dengan nani,indah dan boni, kemudian kita jelaskan jika ayah dodo mempunyai 2 pasangan hidup dalam hal ini 2 istri maka itu tidak dikatakan korespondensi satu-satu)

v Siswa diarahkan untuk membuat sendiri konsep tentang korespondensi satu-satu dari contoh soal yang telah diberikan menurut pemahaman siswa

v Guru menanyakan kepada siswa apa itu korespondensi satu-satu? Siapa yang dapat mendefenisikan tentang korespondensi satu-satu dari contoh soal yang diberikan?

v Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal pada LKS dengan cara bekerja sama dalam kelompok(yang mana dalam hal ini kelompok telah ditentukan pada pertemuan pertama dan meminta siswa untuk duduk pada kelompoknya pada saat belajar  sehingga saat guru masuk siswa telah berada dalam kelompoknya)

v Guru meminta perwakilan 1 orang dari masing-masing kelompok yang diambil secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusinya bersama kelompoknya

v Guru Meminta siswa untuk menyimpulkan hasil belajar pada hari ini yang mana bertujuan membentuk kognitif siswa dari pengalaman belajar hari ini juga dari pengalaman siswa diluar kelas yang berhubungan dengan materi sehingga dengan sendirinya siswa akan dapat dengan mudah memahami materi

v Guru memberi reward atau penghargaan (dalam hal ini reward tidak harus dengan benda atau uang) kepada siswa/kelompok siswa yang hasil diskusinya lebih baik, sehingga memacu siswa/kelompok belajar siswa lain untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik sehingga persaingan sehat dalam hal ini akan muncul. Namun siswa yang lain juga diberi reward dengan menyemagati siswa untuk lebih baik, jadi dalam hal ini siswa akan beranggapan bahwa guru memberikan nilai dengan obyektif
v Siswa memperhatikan dan menyimak pemberian contoh dari guru

















v Siswa membuat konsep tentang korespondensi satu-satu dengan arahan dan bimbingan dari guru


v Siswa menjawab pertanyaan dari guru dan bertanya kembali kepada guru jika ada yang tidak dimengerti



v Siswa mengerjakan Lembar Kerja Siswa(LKS) secara kelompok dalam kelompoknya






v Siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya sementara yang lain mendengar dan memprhatikan


v Siswa dengan arahan dan bimbingan guru bersama-sama menyimpulkan hasil belajar hari ini






v Siswa memberi mendengarkan guru serta memberikan aplus kepada teman yang mendapat reward dari guru


























60 Menit

Kegiatan akhir(penutup) :



v Memberikan tugas rumah(PR)

v Member informasi tentang materi selanjutnya yakni tentang Rumus Fungsi

v Guru menutup pelajaran pada hari ini
v Siswa mencatat tugas yang diberi oleh guru
v Siswa mendengarkan informasi dari guru

v Siswa mengucapkan salam


10 Menit

E.   Alat dan Sumber Belajar

Ø  Alat                            : Spidol, Board, Penghapus, ATK.
Ø  Sumber belajar        : - Buku Matematika SMP kelas VIII 2A semester 1, disusun oleh M.Cholik Adirawan, Erlangga
                                      -Buku referensi lain(LKS)
F.   Penilaian

Ø  Bentuk instrument: Uraian Singkat
Ø  Teknik                       : Tes Tertulis
Ø  KKM Sekolah           : 75






Contoh instrument  :
Ø Adakah korespondensi satu-satu antara :
a)      Himpunan Negara dan himpunan Bendera
b)      Himpunan siswa dengan umurnya
c)      Himpunan siswa dengan na pada daftar hadir siswa













                 Mengetahui,                                                                                   Pekanbaru, …………………..20..
               Kepala Sekolah                                                                               Guru Mata Pelajaran Matematika




         Drs, Yongki Aribowo, M.Si                                                                              Jumianto, S.Pd
                 NIP. 876 414 009                                                                                        NIP. 096 410 956